- Saham SCMA bergerak tipis dan fluktuatif di awal sesi, mencerminkan fase wait and see menjelang rilis kinerja kuartal I-2026.
- Sentimen utama datang dari ekspektasi pemulihan bisnis iklan dan potensi pertumbuhan digital lewat platform Vidio.
- Analis masih melihat upside jangka pendek, tapi pasar tetap berhati-hati di tengah kondisi IHSG yang cenderung melemah.

Kalau kamu lagi mantengin saham media, khususnya SCMA, pergerakan hari ini cukup menarik buat dicermati. Di sesi perdagangan Rabu, 29 April 2026, saham PT Surya Citra Media Tbk terlihat belum punya arah yang tegas, tapi tetap ada pergerakan yang menunjukkan minat pasar masih hidup.
Di awal sesi, harga SCMA sempat naik tipis ke sekitar Rp261, atau menguat sekitar +0,38% dibanding penutupan sebelumnya di Rp260. Pergerakannya juga nggak terlalu liar, masih di kisaran Rp258 sampai Rp263. Ini biasanya jadi tanda klasik fase “wait and see”—buyer ada, tapi belum cukup kuat buat dorong breakout, sementara seller juga belum agresif.
Yang bikin menarik, sebenarnya bukan pergerakan hari ini doang, tapi konteks di belakangnya. Investor lagi nunggu rilis laporan keuangan kuartal I-2026. Ini penting banget, karena bakal kasih gambaran apakah bisnis SCMA mulai recover, terutama dari sisi iklan dan performa digitalnya.
Kita tahu sendiri, industri media lagi shifting. TV konvensional masih jadi core bisnis, tapi pertumbuhan ke depan sangat tergantung ke digital—dan di sini SCMA punya senjata lewat platform Vidio. Banyak analis mulai melihat Vidio sebagai growth engine utama, walaupun monetisasinya masih butuh waktu buat benar-benar maksimal.
Dari sisi analis, sentimennya masih cukup positif, walaupun nggak agresif. Ada yang kasih rekomendasi trading buy dengan target di kisaran Rp300-an. Artinya, secara teori masih ada upside dari harga sekarang, tapi tetap harus hati-hati karena ini lebih cocok buat trading dibanding investasi jangka pendek tanpa katalis jelas.
Selain itu, sentimen lain yang masih kebawa sampai sekarang adalah aksi borong saham oleh pihak internal grup Emtek. Biasanya, kalau insider atau afiliasi mulai nambah kepemilikan, pasar suka nangkap itu sebagai sinyal kepercayaan. Walaupun, tentu aja, itu bukan jaminan harga pasti naik.
Kalau dilihat lebih luas, kondisi pasar juga lagi nggak terlalu kondusif. IHSG di awal sesi cenderung melemah tipis, jadi wajar kalau saham kayak SCMA nggak langsung gas. Sentimen global, plus investor lokal yang masih selektif, bikin banyak saham bergerak sideways dulu.
Jadi, apa yang perlu diperhatikan ke depan? Yang paling dekat jelas laporan keuangan. Kalau hasilnya di atas ekspektasi, apalagi kalau ada sinyal kuat dari pertumbuhan digital, SCMA bisa punya momentum baru. Tapi kalau biasa aja atau malah di bawah ekspektasi, ya kemungkinan masih lanjut konsolidasi.
Selain itu, perkembangan Vidio juga penting banget. Kalau mereka bisa nunjukin growth user dan revenue yang solid, itu bisa jadi game changer. Ditambah lagi, kalau ada aksi korporasi lanjutan dari grup Emtek, itu juga bisa jadi katalis tambahan.
Intinya, SCMA sekarang lagi di fase nunggu—bukan sepi, tapi belum meledak. Buat trader, ini area menarik buat positioning. Tapi buat yang cari kepastian tren, mungkin masih perlu sabar dikit.
Sumber:
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), keterbukaan informasi perusahaan, laporan analis RHB Sekuritas, serta konsensus dan data pasar dari TradingView, Investing, dan berbagai publikasi riset pasar terkini.