
Menjelang sesi perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kembali jadi bahan obrolan pelaku pasar. Setelah beberapa hari bergerak cukup volatil, saham emiten tambang tembaga dan emas ini terlihat masih berada dalam tekanan, meski secara fundamental cerita besarnya belum berubah.
Pada penutupan terakhir, Selasa, 24 Februari 2026, saham AMMN ditutup di kisaran Rp 7.450 per saham atau turun sekitar 4,49% dibandingkan sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi lebih dari 1% pada hari yang sama. Artinya, tekanan di AMMN bukan berdiri sendiri, tetapi juga bagian dari sentimen pasar yang lebih luas.
Kalau ditarik sedikit ke belakang, sebelumnya saham ini sempat ditutup di area Rp 7.900, mencerminkan reli jangka pendek sebelum akhirnya terkena aksi ambil untung. Jadi wajar kalau sebagian investor memilih mengamankan profit lebih dulu, apalagi dalam kondisi pasar yang sedang sensitif terhadap sentimen global.
Yang menarik, cerita fundamental AMMN justru sedang berada dalam fase penting. Perusahaan tengah memasuki fase produksi Phase 8 tambang Batu Hijau, yang digadang-gadang akan meningkatkan output tembaga dan emas secara signifikan. Secara teori, peningkatan produksi ini bisa menjadi katalis positif untuk kinerja tahun berjalan. Namun seperti biasa, pasar sering kali bergerak lebih dulu berdasarkan ekspektasi, bukan realisasi.
Beberapa analis pasar juga masih melihat adanya potensi kenaikan harga dalam 12 bulan ke depan. Konsensus target harga berada di atas level saat ini, dengan estimasi di kisaran Rp 9.400-an per saham menurut data konsensus analis di platform pasar global. Meski begitu, rekomendasinya cenderung moderat karena volatilitas harga komoditas masih tinggi dan pasar global belum sepenuhnya stabil.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap faktor eksternal. Pergerakan harga tembaga dan emas global masih menjadi penentu utama arah saham-saham tambang. Jika harga komoditas kembali menguat, sentimen terhadap AMMN bisa cepat berbalik. Sebaliknya, jika tekanan global berlanjut, saham ini kemungkinan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.
Selain itu, investor juga menunggu kejelasan terkait laporan kinerja kuartal berikutnya. Apakah peningkatan produksi benar-benar langsung tercermin dalam pendapatan dan margin? Atau justru ada tekanan biaya yang membatasi kenaikan laba? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya menjadi bahan pertimbangan besar sebelum dana institusi kembali masuk secara agresif.
Jadi untuk sesi perdagangan Kamis ini, pelaku pasar kemungkinan akan mencermati kombinasi tiga hal: arah IHSG, pergerakan harga komoditas global, dan update terbaru dari manajemen AMMN terkait produksi Batu Hijau. Kalau sentimen membaik, bukan tidak mungkin saham ini mencoba rebound teknikal. Tapi kalau tekanan masih dominan, konsolidasi bisa berlanjut.
Yang jelas, AMMN tetap menjadi salah satu saham tambang paling menarik di papan utama Bursa Efek Indonesia karena eksposurnya yang besar terhadap komoditas strategis. Tinggal menunggu momen yang tepat saja bagi pasar untuk kembali percaya diri.
Sumber: Data harga saham dari Investing.com dan IDN Financials, pemberitaan pasar dari Herald.id, serta laporan dan insight industri dari Kontan Insight.