Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Terbang Rendah GIAA Dihantam Kerugian Besar Sepanjang 2025

Posted on March 30, 2026 By V. Theresia No Comments on Terbang Rendah GIAA Dihantam Kerugian Besar Sepanjang 2025
  • Garuda Indonesia mencatat kerugian sekitar Rp5,4 triliun sepanjang 2025 akibat tekanan pendapatan dan beban operasional tinggi.
  • Proses restrukturisasi belum sepenuhnya memperbaiki fundamental, dengan biaya utang dan harga avtur masih jadi beban utama.
  • Sentimen pasar masih hati-hati, sementara investor menunggu bukti nyata pemulihan kinerja dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah.

Kalau kamu ngikutin pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, nama Garuda Indonesia (GIAA) pasti bukan hal baru. Maskapai pelat merah ini lagi-lagi jadi bahan pembicaraan setelah laporan keuangan 2025 menunjukkan kerugian yang makin membengkak. Di tengah upaya bangkit dari restrukturisasi besar, muncul pertanyaan klasik: sebenarnya Garuda ini masih layak diselamatkan atau nggak sih?

Sepanjang 2025, Garuda mencatat rugi bersih sekitar US$319 juta atau setara Rp5,4 triliun. Angka ini jelas bikin kening berkerut, apalagi kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang kerugiannya masih lebih terkendali. Artinya, meskipun sudah lewat fase restrukturisasi utang yang cukup dramatis beberapa tahun lalu, tekanan terhadap bisnis inti Garuda ternyata belum benar-benar reda.

Kalau dilihat lebih dalam, masalahnya bukan cuma satu. Dari sisi pendapatan, kinerja Garuda justru sedikit menurun. Ini cukup menarik karena secara umum industri penerbangan global sedang dalam fase pemulihan pasca pandemi. Tapi pemulihan ini memang nggak merata. Permintaan belum sepenuhnya balik ke level sebelum COVID-19, terutama untuk segmen bisnis, yang biasanya jadi sumber margin tinggi.

Di sisi lain, beban operasional Garuda masih berat. Mulai dari biaya bahan bakar avtur yang fluktuatif, biaya perawatan pesawat, sampai bunga utang hasil restrukturisasi sebelumnya. Jadi meskipun utangnya sudah “dirapikan”, efeknya masih terasa ke laporan keuangan sekarang. Ibaratnya, luka lama memang sudah dijahit, tapi belum sepenuhnya sembuh.

Menariknya, dari sisi pasar modal, saham GIAA sempat dapat angin segar setelah keluar dari papan pemantauan khusus di Bursa Efek Indonesia. Ini sempat jadi sinyal positif karena artinya perusahaan dinilai mulai lebih “sehat” dari sisi regulasi perdagangan saham. Tapi ya itu tadi, sentimen positif ini belum cukup kuat untuk menutup kekhawatiran investor terhadap fundamentalnya.

Kalau ngomongin pandangan analis, mayoritas masih cenderung hati-hati. Bahkan bisa dibilang GIAA ini masuk kategori saham dengan risiko tinggi. Bukan berarti nggak menarik sama sekali, tapi lebih cocok buat trader yang siap dengan volatilitas. Banyak analis juga belum terlalu agresif kasih target harga karena masih menunggu bukti nyata perbaikan kinerja operasional.

Di tengah semua ini, ada satu narasi yang selalu muncul: Garuda itu “too big to fail”. Sebagai maskapai nasional, perannya nggak cuma bisnis, tapi juga strategis. Pemerintah Indonesia sebelumnya sudah beberapa kali turun tangan, mulai dari restrukturisasi utang sampai dukungan likuiditas. Jadi secara realistis, peluang untuk “diselamatkan” itu masih ada.

Tapi penyelamatan ini tentu nggak bisa selamanya bergantung pada bantuan. Kunci utamanya tetap di transformasi bisnis. Garuda harus bisa lebih efisien, lebih kompetitif, dan lebih adaptif terhadap perubahan industri. Kalau tidak, suntikan dana sebesar apa pun hanya akan jadi solusi sementara.

Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget buat dipantau. Pertama, apakah Garuda bisa menekan biaya operasional secara konsisten. Kedua, apakah mereka bisa meningkatkan pendapatan, terutama dari rute-rute yang menguntungkan. Dan yang nggak kalah penting, bagaimana arah harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, karena dua faktor ini sangat memengaruhi bisnis penerbangan.

Jadi, masih layak diselamatkan? Jawabannya nggak hitam putih. Garuda masih punya peluang, tapi jalannya jelas nggak mudah. Buat investor, ini bukan sekadar soal angka di laporan keuangan, tapi juga soal seberapa besar keyakinan terhadap kemampuan perusahaan untuk benar-benar bangkit.

Sumber: Laporan keuangan Garuda Indonesia 2025, publikasi media finansial seperti Kontan dan Katadata, serta data perdagangan Bursa Efek Indonesia.

Berita Emiten, IDX:GIAA

Post navigation

Previous Post: BUMI Naik Tipis di Tengah Tekanan, Sinyal Balik Arah atau Sekadar Rebound?
Next Post: Saham DOID Bergerak Tertekan Usai Aksi Ekspansi dan Sorotan Kinerja, Analis Masih Rekomendasikan Buy

Related Posts

Di Balik Lahirnya BRIS, Apa Strategi, Pertumbuhan dan Harapan Investor Berita Emiten
Bos SCMA Borong 241,8 Juta Saham SCMA di Harga Rp276, Sinyal Kepercayaan Internal di Tengah Dinamika Industri Media Berita Emiten
BWPT Terbitkan Obligasi Baru, Bagaimana Dampaknya ke Prospek Saham? Berita Emiten
Kredit Rp 2,56 Triliun Masuk, EMAS Fokus Genjot Produksi Berita Emiten
Pajak Naik Tajam, Laba Jasa Marga (JSMR) Turun 19% di 2025, Masih Layak Koleksi? Berita Emiten
Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% pada 2025, Tekanan Harga Energi dan Beban Non-Kas Jadi Biang Keladi Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by