
Kalau kamu ngikutin saham sektor tambang dan kontraktor tambang di Bursa Efek Indonesia, nama DOID alias PT BUMA Internasional Grup Tbk pasti bukan hal baru. Tapi belakangan ini, pergerakan sahamnya cukup bikin investor mikir dua kali. Di perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, saham DOID terlihat masih belum lepas dari tekanan dan ditutup turun tipis sekitar 0,78% ke level Rp254. Penurunannya memang nggak dalam, tapi cukup menggambarkan bahwa pasar masih wait and see terhadap arah bisnis perusahaan ini ke depan.
Menariknya, pelemahan ini bukan karena nggak ada aksi dari perusahaan. Justru sebaliknya, DOID lagi cukup aktif melakukan ekspansi. Salah satu langkah yang jadi sorotan adalah aksi investasi melalui anak usahanya ke perusahaan tambang luar negeri seperti 29Metals. Kalau dilihat sekilas, ini langkah yang cukup berani dan strategis. DOID jelas ingin keluar dari ketergantungan pada batu bara termal dan mulai masuk ke komoditas lain yang dianggap lebih “future proof” di tengah tren transisi energi global.
Tapi ya namanya pasar, nggak semua langsung disambut positif. Investor justru melihat ada risiko baru dari langkah ekspansi ini, terutama dari sisi pembiayaan dan struktur utang. DOID memang dikenal punya leverage yang cukup tinggi, dan ketika ekspansi dilakukan, kekhawatiran soal beban keuangan otomatis ikut naik. Ditambah lagi, harga batu bara global yang cenderung fluktuatif bikin sentimen ke saham ini makin sensitif.
Kalau ditarik ke belakang, performa saham DOID dalam setahun terakhir juga belum terlalu menggembirakan. Sahamnya sempat turun cukup dalam, bahkan lebih dari 30%. Ini jadi salah satu alasan kenapa banyak investor masih cenderung hati-hati, meskipun secara operasional sebenarnya ada perbaikan.
Dari sisi kinerja, DOID sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Aktivitas produksi dan volume pekerjaan seperti overburden removal meningkat sepanjang 2025. Ini sinyal positif bahwa demand jasa kontraktor tambang masih ada dan bisnis inti mereka tetap berjalan solid. Cuma memang, dari sisi laba bersih masih ada tekanan, terutama karena kenaikan biaya operasional dan beberapa faktor non-recurring di periode sebelumnya.
Nah, di tengah kondisi seperti ini, pandangan analis justru cukup menarik. Beberapa analis melihat DOID sebagai saham yang undervalued. Valuasinya dianggap murah, dengan price-to-earnings ratio di kisaran 4–5 kali dan price-to-book value di bawah 1 kali. Bahkan ada yang masih kasih rekomendasi “buy” dengan target harga sekitar Rp425. Artinya, kalau skenario positif terjadi, upside-nya masih cukup besar.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Banyak yang percaya bahwa kalau harga batu bara bisa stabil dan permintaan dari negara seperti India tetap kuat, margin DOID bisa membaik. Belum lagi kalau strategi diversifikasi ke luar batu bara mulai menunjukkan hasil, itu bisa jadi game changer buat bisnis mereka.
Di sisi lain, kondisi pasar secara keseluruhan juga lagi nggak sepenuhnya kondusif. IHSG sendiri bergerak cukup fluktuatif, dipengaruhi sentimen global seperti arah suku bunga, kondisi ekonomi dunia, sampai harga komoditas. Jadi wajar kalau saham seperti DOID yang cukup sensitif terhadap faktor eksternal jadi ikut terbawa arus.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget buat dipantau kalau kamu tertarik sama saham ini. Yang paling dekat tentu laporan keuangan berikutnya, apakah tren pemulihan bisa berlanjut atau malah sebaliknya. Selain itu, realisasi proyek baru dan perkembangan ekspansi internasional juga bakal jadi kunci. Dan tentu saja, arah harga batu bara global tetap jadi faktor utama yang nggak bisa diabaikan.
Jadi, DOID saat ini bisa dibilang ada di persimpangan jalan. Di satu sisi ada potensi besar dari transformasi bisnis dan valuasi yang murah, tapi di sisi lain ada risiko yang juga nggak kecil. Buat investor, ini jadi momen yang menarik, antara berani ambil posisi lebih awal atau nunggu konfirmasi arah yang lebih jelas.
Sumber:
Kontan.co.id, TradingView, Investing.com, laporan perusahaan PT BUMA Internasional Grup Tbk, serta riset analis pasar.