- Saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) turun sekitar -2,67% akibat aksi ambil untung meski laba 2025 melonjak ~45%.
- Fundamental tetap kuat didorong efisiensi, pertumbuhan penjualan, dan dampak positif divestasi Lawson.
- Analis masih optimistis dengan rating “buy”, sementara pasar menunggu katalis seperti paparan publik dan momentum Lebaran.

Kalau kamu ngikutin pergerakan saham ritel di Bursa Efek Indonesia, nama PT Midi Utama Indonesia Tbk atau MIDI ini lagi cukup menarik buat dibahas. Apalagi setelah mereka ngerilis kinerja keuangan terbaru yang bisa dibilang cukup “wah”.
Jadi gini, di sesi perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, saham MIDI justru bergerak agak turun sekitar -2,67%. Sekilas mungkin terdengar aneh, karena di saat yang sama perusahaan baru saja ngumumin lonjakan laba yang signifikan sepanjang 2025. Tapi kalau dipikir-pikir, ini bukan hal yang terlalu mengejutkan di pasar saham.
Biasanya, ketika kinerja perusahaan sudah bagus dan ekspektasi pasar sudah tinggi, harga sahamnya juga sudah naik duluan. Nah, begitu laporan resminya keluar, investor yang sudah cuan mulai ambil untung. Istilahnya “sell on news”. Jadi penurunan ini lebih ke reaksi teknikal jangka pendek, bukan karena fundamentalnya jelek.
Padahal kalau kita lihat lebih dalam, performa MIDI ini solid banget. Laba bersihnya naik sekitar 45% secara tahunan, didorong oleh penjualan yang tumbuh dan efisiensi operasional. Salah satu faktor penting juga datang dari divestasi bisnis Lawson, yang sebelumnya cukup menekan margin. Setelah dilepas, struktur keuangan jadi lebih sehat.
Menariknya lagi, meskipun harga sahamnya lagi terkoreksi, pandangan analis justru masih cukup optimistis. Beberapa sekuritas masih kasih rating “buy” dengan target harga di kisaran Rp550 sampai Rp590. Artinya, dari level sekarang, masih ada potensi upside yang lumayan.
Kenapa analis masih pede? Salah satunya karena bisnis MIDI ini tergolong defensif. Mereka main di sektor ritel kebutuhan sehari-hari, yang permintaannya relatif stabil. Ditambah lagi, ekspansi gerai terus jalan, dan kontribusi dari luar Jawa juga makin besar. Ini jadi sinyal kalau pertumbuhan mereka nggak cuma bergantung di satu wilayah.
Tapi ya, kita juga nggak bisa lepas dari kondisi pasar secara keseluruhan. Waktu itu, IHSG dan pasar global lagi agak tertekan. Sentimen risk-off, pergerakan indeks global seperti Hang Seng dan S&P 500 yang melemah, sampai faktor makro lain ikut bikin saham-saham, termasuk MIDI, agak tertahan.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget buat dipantau. Salah satunya adalah paparan publik dan earnings call yang dijadwalkan akhir Maret 2026. Dari situ biasanya kita bisa dapet gambaran lebih jelas soal strategi perusahaan ke depan. Selain itu, momentum Lebaran juga penting, karena biasanya konsumsi masyarakat naik dan bisa jadi booster buat penjualan ritel.
Jadi kalau disimpulkan, penurunan saham MIDI kemarin lebih ke dinamika jangka pendek. Secara fundamental, ceritanya masih cukup menarik. Tinggal bagaimana manajemen bisa menjaga momentum pertumbuhan dan pasar kembali kasih apresiasi ke sahamnya.
Sumber:
Laporan keuangan MIDI 2025 (IDX filing), publikasi media seperti Investing Indonesia, Neraca, Kontan/TradingView, serta riset analis sekuritas terkait sektor ritel Indonesia.