Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

BBCA Siap Tebar Dividen Tiga Kali pada 2026, Saatnya Koleksi atau Tunggu Dulu?

Posted on March 20, 2026March 20, 2026 By V. Theresia No Comments on BBCA Siap Tebar Dividen Tiga Kali pada 2026, Saatnya Koleksi atau Tunggu Dulu?
  • PT Bank Central Asia Tbk berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali setahun mulai 2026, menandakan kondisi likuiditas dan kinerja yang sangat solid.
  • Analis tetap bullish dengan rekomendasi “buy” dan target harga di kisaran Rp10.000–Rp11.000, didukung proyeksi pertumbuhan laba dan yield dividen yang menarik.
  • Ke depan, pasar akan mencermati realisasi dividen berkala, arah suku bunga, dan kinerja keuangan BBCA sebagai katalis utama pergerakan saham.
Kalau kamu termasuk investor yang suka saham “tenang tapi pasti”, kabar terbaru dari PT Bank Central Asia Tbk alias BBCA ini cukup menarik buat disimak.

Bayangin, mulai 2026 nanti BBCA berencana bagi dividen interim sampai tiga kali dalam setahun. Buat ukuran bank besar di Indonesia, ini bukan hal yang biasa. Selama ini, kebanyakan emiten cuma bagi dividen sekali setahun, atau maksimal dua kali kalau ada interim. Jadi langkah BBCA ini bisa dibilang cukup progresif dan jelas punya pesan kuat ke investor: cash flow mereka lagi sehat banget.

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, keputusan ini nggak muncul tiba-tiba. Dari hasil RUPS terbaru, BBCA sudah menetapkan dividen total Rp336 per saham untuk tahun buku 2025. Itu setara dengan payout ratio sekitar 72% dari laba bersih yang tembus Rp57,5 triliun. Angka ini sudah termasuk dividen interim Rp55 yang dibagikan di akhir 2025. Artinya, perusahaan memang lagi royal-royalnya berbagi keuntungan.

Menurut beberapa laporan analis, langkah menaikkan frekuensi dividen ini biasanya cuma dilakukan perusahaan yang benar-benar pede dengan likuiditas dan stabilitas labanya. Dalam kasus BBCA, hal itu masuk akal. CASA (current account saving account) mereka kuat, biaya dana rendah, dan kualitas kredit relatif terjaga. Jadi walaupun ekonomi global lagi penuh ketidakpastian, mesin profit mereka masih jalan cukup mulus.

Dari sisi analis pasar, sentimennya juga cenderung positif. Beberapa sekuritas seperti Mandiri Sekuritas masih mempertahankan rating “buy” untuk BBCA dengan target harga di kisaran Rp11.000. Konsensus pasar bahkan menempatkan target di sekitar Rp10.000, yang berarti masih ada potensi upside dari harga sekarang. Ini menunjukkan bahwa pasar melihat kombinasi antara pertumbuhan laba dan dividen sebagai daya tarik utama saham ini.

Menariknya lagi, proyeksi ke depan juga masih solid. Ada estimasi laba BBCA bisa naik lagi ke sekitar Rp61–62 triliun di 2026. Kalau itu tercapai dan kebijakan dividen tiga kali setahun benar-benar dijalankan, yield dividen BBCA bisa jadi makin menarik, terutama buat investor yang cari income rutin.

Tapi tentu saja, nggak semuanya tanpa risiko. BBCA tetap dikenal sebagai saham dengan valuasi premium dibanding bank lain. Jadi ekspektasi pasar juga tinggi. Kalau pertumbuhan kredit melambat, margin tertekan, atau kualitas aset memburuk, sentimen bisa cepat berubah. Apalagi kondisi global masih dipengaruhi arah suku bunga dan aliran dana asing yang kadang bikin IHSG goyang.

Di tengah kondisi pasar yang naik turun seperti sekarang, saham seperti BBCA sering dianggap “safe haven”-nya investor lokal. Stabil, konsisten, dan jarang bikin kejutan negatif. Tapi dengan rencana dividen baru ini, BBCA seperti mencoba naik level—bukan cuma stabil, tapi juga makin menarik dari sisi cash return.

Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget untuk dipantau. Realisasi pembagian dividen interim pertama di 2026 bakal jadi bukti awal apakah strategi ini berjalan mulus. Selain itu, arah suku bunga Bank Indonesia, pertumbuhan kredit di sektor perbankan, dan laporan kinerja kuartalan BBCA juga bakal jadi penentu apakah momentum positif ini bisa terus berlanjut.

Kalau kamu tipe investor yang suka kombinasi antara growth dan income, BBCA jelas masih masuk radar. Tinggal pertanyaannya: di harga sekarang, kamu masih mau masuk, atau nunggu koreksi dulu?

Sumber:
Liputan6, Kontan, Investortrust, Indo Premier (ringkasan laporan RUPS, pembagian dividen, dan riset analis pasar)

Berita Emiten, IDX:BBCA

Post navigation

Previous Post: Bisnis Sempat Tertekan di 2025, Saham AYAM Berpotensi Rebound Saat Ramadan dan Lebaran
Next Post: Laba APLN Anjlok 82% di 2025, Target 2026 Dipangkas Moderat di Tengah Tekanan Sektor Properti

Related Posts

Caturkarda Depo Bangunan (DEPO) Perluas Jejak ke Luar Jawa, Pasar Tunggu Realisasi Ekspansi dan Katalis Baru Berita Emiten
TBIG Cetak Pertumbuhan Laba 2025, Stabil di Tengah Konsolidasi Industri Telekomunikasi Berita Emiten
Harimas Tunggal Perkasa Naikkan Kepemilikan di IMPC, Pasar Mulai Berspekulasi Berita Emiten
Marketing Sales PANI Melejit Tiga Digit, PIK2 Kian Kokoh di Tengah Pasar yang Berfluktuasi Berita Emiten
BBNI Siap Lunasi Global Bond US$500 Juta, Investor Soroti Strategi Pendanaan Bank Pelat Merah Berita Emiten
Saat IHSG Melemah, AADI Justru Tancap Gas, Apa yang Terjadi? Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by