- Laba bersih RISE melonjak tajam di kuartal I-2026 berkat kombinasi kenaikan pendapatan dan efisiensi operasional.
- Saham RISE merespons positif dengan penguatan signifikan, menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kinerja terbaru.
- Fokus berikutnya ada pada keberlanjutan pertumbuhan, khususnya dari proyek baru, pendapatan berulang, dan kualitas sumber pendapatan.
Kalau kamu lagi mantengin saham properti di Bursa Efek Indonesia, nama PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) belakangan ini memang lagi cukup mencuri perhatian. Bukan tanpa alasan—kinerja mereka di kuartal I-2026 benar-benar melonjak tajam, bahkan bisa dibilang “out of expectation” untuk ukuran emiten properti yang biasanya bergerak lebih stabil.
Dari laporan keuangan terbaru yang dirilis lewat keterbukaan informasi BEI, RISE berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp97 miliar. Angka ini naik hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar Rp16 miliar. Lonjakan ini jelas jadi sinyal bahwa ada sesuatu yang berubah dalam strategi atau eksekusi bisnis mereka.
Kalau ditarik lebih dalam, pertumbuhan ini bukan cuma karena pendapatan naik, tapi juga karena perusahaan berhasil mengelola biaya dengan lebih efisien. Pendapatan memang tumbuh sekitar 36% secara tahunan menjadi Rp173 miliar, tapi yang lebih menarik adalah bagaimana margin mereka ikut melebar. Laba bruto dan EBITDA sama-sama melonjak signifikan, menunjukkan bahwa bisnis mereka sekarang jauh lebih “lean” dibanding sebelumnya.
Dari sisi bisnis, RISE masih mengandalkan penjualan properti residensial sebagai tulang punggung. Tapi mereka juga punya kontribusi dari hotel dan properti komersial yang mulai terlihat perannya. Meski begitu, ada satu hal yang cukup sering jadi perhatian investor, yaitu porsi pendapatan dari pihak berelasi yang cukup besar. Buat sebagian investor, ini bisa jadi area yang perlu dicermati lebih lanjut, terutama soal keberlanjutan pendapatan ke depan.
Di pasar saham, reaksi investor terlihat cukup agresif. Saham RISE sempat melonjak tajam dan masuk jajaran top gainers, bahkan sempat naik lebih dari 20% dalam satu sesi perdagangan. Menariknya, kenaikan ini terjadi di tengah pergerakan IHSG yang cenderung biasa saja. Artinya, rally di RISE lebih didorong oleh faktor internal, bukan sekadar ikut arus pasar.
Kalau lihat dari sisi analis, meskipun belum banyak update resmi soal target harga terbaru, sentimennya mulai berubah jadi lebih positif. Beberapa pelaku pasar mulai melihat RISE sebagai cerita turnaround yang menarik, terutama kalau perusahaan bisa menjaga momentum pertumbuhan ini di kuartal-kuartal berikutnya.
Secara fundamental, posisi keuangan mereka juga masih cukup solid. Total aset sudah menyentuh lebih dari Rp4 triliun dengan tingkat utang yang masih relatif terjaga. Ini penting, karena memberi ruang buat perusahaan untuk ekspansi tanpa harus terlalu agresif dalam menambah leverage.
Ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian pasar. Mulai dari realisasi penjualan proyek baru, kontribusi recurring income dari hotel dan properti komersial, sampai transparansi soal transaksi pihak berelasi. Selain itu, faktor eksternal seperti suku bunga dan daya beli masyarakat juga tetap jadi variabel penting untuk sektor properti.
Jadi, apakah RISE ini layak dilirik? Jawabannya: menarik, tapi tetap harus dicermati dengan kritis. Kinerja kuartal I ini memang impresif, tapi pasar pasti akan menunggu apakah ini bisa berlanjut atau hanya lonjakan sesaat.
Sumber:
Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (laporan keuangan Q1 2026 RISE), riset Indopremier Sekuritas, StockWatch, IDN Financials, serta data pergerakan saham dari Investing.com.