Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Bukalapak (BUKA) Kembali Rugi Rp425 Miliar di Kuartal I-2026, Tekanan Biaya Bayangi Pertumbuhan Pendapatan

Posted on April 30, 2026 By V. Theresia No Comments on Bukalapak (BUKA) Kembali Rugi Rp425 Miliar di Kuartal I-2026, Tekanan Biaya Bayangi Pertumbuhan Pendapatan
  • Bukalapak (BUKA) mencatat rugi Rp425 miliar di Q1 2026 meski pendapatan naik, akibat tekanan biaya yang tinggi.
  • Segmen gaming masih jadi penopang utama, tapi ketergantungan ini jadi risiko bagi kestabilan bisnis.
  • Analis masih melihat potensi jangka panjang, namun investor menunggu bukti perbaikan profitabilitas yang lebih konsisten.

Kalau kamu lagi ngikutin saham teknologi di Indonesia, kabar terbaru dari PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) ini cukup menarik—dan jujur aja, agak bikin mikir dua kali. Di kuartal I-2026, Bukalapak harus mencatatkan rugi bersih sekitar Rp425 miliar. Padahal, setahun sebelumnya di periode yang sama, mereka masih bisa bukukan laba. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Di permukaan, performa Bukalapak sebenarnya nggak buruk-buruk amat. Pendapatan mereka justru naik cukup signifikan, tembus kisaran Rp2,3 triliun. Artinya, secara bisnis, aktivitas di platform mereka masih jalan dan bahkan tumbuh. Tapi masalahnya ada di biaya. Beban pokok pendapatan ikut naik cukup tajam, jadi margin tertekan dan akhirnya bikin bottom line berubah jadi merah.

Kalau ditarik lebih dalam, segmen gaming masih jadi andalan Bukalapak. Ini bukan hal baru, tapi makin kelihatan jelas sekarang. Penjualan produk digital seperti voucher game dan item virtual masih jadi kontributor terbesar. Di satu sisi, ini bagus karena ada engine pertumbuhan yang kuat. Tapi di sisi lain, ketergantungan ke satu segmen juga jadi risiko. Kalau tren gaming melambat atau kompetisi makin ketat, dampaknya bisa langsung terasa ke kinerja perusahaan.

Menariknya lagi, kondisi ini cukup kontras kalau dibandingkan dengan kinerja Bukalapak di tahun 2025. Waktu itu, mereka sempat mencetak laba besar, bahkan sampai triliunan rupiah. Tapi kalau dilihat lebih detail, laba itu banyak ditopang oleh faktor non-operasional, bukan murni dari bisnis inti. Jadi sekarang ketika kembali rugi, pasar mulai mempertanyakan: sebenarnya sekuat apa sih model bisnis Bukalapak ini?

Dari sisi pergerakan saham, sentimen pasar terlihat cukup hati-hati. Harga saham BUKA belakangan bergerak di kisaran Rp140–Rp150, dengan volatilitas yang masih cukup tinggi. Beberapa indikator teknikal bahkan menunjukkan kecenderungan bearish dalam jangka pendek. Wajar sih, karena investor biasanya sensitif terhadap laporan rugi, apalagi untuk perusahaan teknologi yang ekspektasinya tinggi.

Tapi bukan berarti semua pandangan negatif. Sejumlah analis masih melihat potensi jangka menengah hingga panjang. Konsensus target harga masih ada di atas level saat ini, bahkan ada yang memperkirakan bisa tembus Rp200-an per saham. Rekomendasi “buy” juga masih dipertahankan oleh beberapa institusi, dengan catatan bahwa transformasi bisnis Bukalapak harus benar-benar berhasil dan bisa menghasilkan profit yang lebih konsisten.

Kalau dilihat dari sisi makro, situasinya juga cukup mendukung tapi nggak luar biasa. Ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh di kisaran 5% pada 2026. Ini artinya daya beli masyarakat relatif stabil, tapi belum cukup kuat untuk jadi katalis besar bagi lonjakan transaksi e-commerce. Jadi, Bukalapak tetap harus kerja ekstra untuk meningkatkan efisiensi dan monetisasi.

Ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian investor. Pertama, apakah Bukalapak bisa menekan biaya tanpa mengorbankan pertumbuhan. Kedua, apakah mereka bisa diversifikasi sumber pendapatan dan nggak terlalu bergantung pada gaming. Dan terakhir, apakah strategi jangka panjang mereka benar-benar bisa membawa perusahaan ke profitabilitas yang lebih stabil, bukan sekadar laba sesaat karena faktor non-operasional.

Jadi, buat kamu yang ngikutin saham BUKA, cerita ini belum selesai. Justru sekarang mungkin jadi fase paling krusial untuk melihat apakah Bukalapak bisa benar-benar “naik level” atau masih harus berjuang lebih lama di fase transisi.

Sumber: Laporan keuangan Bukalapak kuartal I-2026 (keterbukaan informasi BEI), Kontan, Investing.com, TradingView, laporan analis pasar modal, serta proyeksi ekonomi dari Bloomberg dan lembaga internasional.

Berita Emiten, IDX:BUKA

Post navigation

Previous Post: ENRG Terbitkan Obligasi Rp500 Miliar, Fokus Perbaiki Struktur Utang Anak Usaha
Next Post: ANTM Ditekan Asing, Apakah Ini Kesempatan atau Sinyal Bahaya?

Related Posts

Laba APLN Anjlok 82% di 2025, Target 2026 Dipangkas Moderat di Tengah Tekanan Sektor Properti Berita Emiten
Bisnis Sempat Tertekan di 2025, Saham AYAM Berpotensi Rebound Saat Ramadan dan Lebaran Berita Emiten
Lonjakan Harga Nikel Bikin Laba INCO Melesat, Ini Ceritanya Berita Emiten
Optimisme PT Garuda Metalindo Tbk, Targetkan Laba 15% di Tengah Dinamika Otomotif Berita Emiten
Manuver Baru Emiten Pizza Hut di Tengah Dinamika Pasar Saham Berita Emiten
Potongan Komisi Ojol Dipangkas, GOTO Berhitung Ulang Strategi Pertumbuhan Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by