- MAIN menyiapkan belanja modal hingga Rp1 triliun meski biaya bahan baku pakan ternak masih tinggi akibat kenaikan harga jagung dan soybean meal global.
- Kinerja MAIN kuartal I-2026 cukup solid dengan laba bersih melonjak hampir dua kali lipat dan penjualan naik lebih dari 16% secara tahunan.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya dari stabilitas harga ayam, efisiensi operasional, serta potensi kenaikan permintaan protein hewani dari program pemerintah.
Industri poultry atau perunggasan lagi masuk fase yang menarik di 2026. Di satu sisi, harga bahan baku pakan ternak masih bikin deg-degan karena naik turun mengikuti kondisi global. Tapi di sisi lain, beberapa emiten justru mulai agresif ekspansi. Salah satu yang paling mencuri perhatian datang dari PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).
Di tengah tekanan biaya produksi yang masih tinggi, MAIN malah menyiapkan belanja modal hingga mendekati Rp1 triliun. Langkah ini cukup menarik karena biasanya perusahaan akan lebih hati-hati saat biaya bahan baku sedang mahal. Tapi MAIN tampaknya melihat momentum pertumbuhan industri poultry nasional masih cukup besar untuk beberapa tahun ke depan.
Kalau melihat laporan keuangan kuartal I-2026, performa MAIN memang cukup solid. Penjualan perusahaan naik lebih dari 16% secara tahunan menjadi sekitar Rp3,69 triliun. Laba bersihnya bahkan melonjak hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Salah satu faktor pendorongnya datang dari harga DOC dan ayam broiler yang relatif lebih stabil dibanding kondisi berat di beberapa tahun sebelumnya.
Meski begitu, tantangan terbesar MAIN sebenarnya belum hilang. Beban pokok penjualan perusahaan ikut naik cukup tinggi karena harga jagung dan soybean meal masih mahal. Dua komoditas ini memang jadi komponen utama pakan ternak dan sangat sensitif terhadap kondisi global, mulai dari cuaca, perang dagang, sampai pergerakan dolar AS.
Apalagi sebagian bahan baku industri poultry Indonesia masih bergantung pada impor. Jadi ketika rupiah melemah, otomatis biaya produksi ikut terdorong naik. Hal ini yang sekarang masih jadi perhatian utama investor sektor poultry.
Menariknya, MAIN tidak memilih menahan ekspansi. Manajemen justru ingin memperkuat kapasitas produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Perusahaan kabarnya akan melanjutkan pembangunan fasilitas produksi, memperluas penggunaan panel surya, hingga melakukan optimalisasi formulasi pakan agar biaya bisa lebih efisien.
Strategi seperti ini sebenarnya cukup masuk akal. Industri poultry memang terkenal siklikal. Saat harga ayam bagus dan pasokan mulai stabil, perusahaan biasanya langsung memperkuat fondasi bisnis untuk menghadapi siklus berikutnya. Jadi ekspansi yang dilakukan sekarang kemungkinan besar bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan jangka pendek, tapi juga menjaga daya saing beberapa tahun ke depan.
Di pasar saham sendiri, sektor poultry mulai kembali dilirik investor. Setelah sempat tertekan akibat lonjakan harga pakan dalam beberapa tahun terakhir, saham-saham poultry perlahan menunjukkan pemulihan seiring membaiknya margin dan kestabilan harga livebird.
Selain MAIN, investor juga mulai memperhatikan emiten lain seperti CPIN dan JPFA yang sama-sama aktif memperluas bisnis hilirisasi makanan olahan. Pasar tampaknya mulai melihat bahwa permintaan protein hewani di Indonesia masih punya ruang pertumbuhan besar, apalagi dengan adanya program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang berpotensi meningkatkan konsumsi ayam dan telur nasional.
Beberapa analis juga menilai valuasi MAIN masih cukup menarik dibanding rata-rata historisnya. Dengan kondisi keuangan yang mulai membaik dan ekspansi yang terus berjalan, saham MAIN dinilai masih punya ruang untuk bergerak jika kondisi industri tetap kondusif.
Meski begitu, investor tetap perlu waspada. Risiko utama sektor poultry masih sama seperti sebelumnya, yaitu volatilitas harga bahan baku dan ketidakstabilan harga ayam di pasar domestik. Kalau harga jagung atau soybean meal kembali melonjak tajam, margin perusahaan bisa kembali tertekan.
Untuk saat ini, pasar akan fokus memantau laporan keuangan semester I-2026, perkembangan harga komoditas global, serta realisasi ekspansi MAIN sepanjang tahun ini. Kalau perusahaan berhasil menjaga efisiensi sambil mempertahankan pertumbuhan penjualan, bukan tidak mungkin saham poultry kembali jadi salah satu sektor favorit di Bursa Efek Indonesia.
Sumber:
Laporan keuangan PT Malindo Feedmill Tbk kuartal I-2026
Paparan publik dan keterbukaan informasi MAIN
Riset BCA Sekuritas
IPOT News
Data pasar Bursa Efek Indonesia (BEI)