- Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan saham GJTL hingga 6,68%, memicu sentimen positif bahwa saham ini masih undervalued.
- Valuasi GJTL dinilai murah dengan PBV di bawah 1 kali, sementara prospek bisnis ban dan ekspor otomotif mulai membaik.
- Pasar kini menunggu katalis berikutnya seperti kinerja semesteran, dividen, dan kelanjutan aksi akumulasi investor besar di saham GJTL.
Nama PT Gajah Tunggal Tbk atau GJTL belakangan kembali ramai diperbincangkan investor pasar modal. Penyebabnya bukan cuma karena harga sahamnya mulai bergerak naik, tapi juga karena investor legendaris Lo Kheng Hong kembali tercatat menambah kepemilikan saham di emiten produsen ban tersebut.
Buat pelaku pasar, aksi beli Lo Kheng Hong hampir selalu menarik perhatian. Sebab selama ini ia dikenal sebagai investor value investing yang cenderung masuk ke saham-saham dengan valuasi murah, fundamental kuat, tapi belum terlalu dilirik pasar. Ketika ia terus mengakumulasi saham tertentu, biasanya muncul spekulasi bahwa saham itu masih punya potensi kenaikan lebih lanjut.
Hal itulah yang kini terjadi pada GJTL.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, kepemilikan Lo Kheng Hong di GJTL naik menjadi sekitar 6,68%. Artinya, ia masih percaya prospek bisnis Gajah Tunggal ke depan cukup menarik meskipun sahamnya sudah naik sejak awal tahun.
Menariknya, banyak analis memang menilai valuasi GJTL masih relatif murah dibanding emiten otomotif dan komponen lainnya. Rasio price to book value (PBV) saham ini bahkan masih berada di bawah 1 kali. Dalam dunia investasi, kondisi seperti ini sering dianggap sebagai ciri saham undervalued karena harga pasar masih lebih rendah dibanding nilai bukunya.
Selain faktor valuasi, pasar juga mulai melihat adanya peluang pemulihan bisnis ban dan otomotif global. Gajah Tunggal punya pasar ekspor yang cukup besar lewat merek GT Radial dan Giti Tire. Jadi ketika permintaan otomotif dunia mulai membaik, potensi penjualan perusahaan juga ikut terdorong.
Kondisi itu membuat sejumlah analis mulai memberikan pandangan positif terhadap saham GJTL. Ada yang melihat saham ini masih punya ruang menuju area Rp1.300 bahkan lebih jika momentum akumulasi terus berlanjut dan kinerja keuangan tetap stabil.
Walaupun begitu, investor tetap perlu memperhatikan beberapa risiko. Salah satu yang paling sering disorot adalah fluktuasi harga bahan baku seperti karet dan energi. Kalau harga bahan baku melonjak terlalu tinggi, margin keuntungan perusahaan bisa ikut tertekan. Selain itu, perlambatan ekonomi global juga bisa memengaruhi permintaan ekspor ban.
Di tengah kondisi IHSG yang masih bergerak cukup volatile akibat sentimen global dan arus dana asing, saham GJTL justru terlihat mulai mendapat perhatian baru dari investor domestik. Volume transaksi meningkat dan pergerakan sahamnya mulai lebih aktif dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Sekarang pasar tinggal menunggu katalis berikutnya. Investor akan memantau hasil RUPS, potensi pembagian dividen, perkembangan laba semester berikutnya, sampai apakah Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan sahamnya atau tidak. Karena di pasar modal Indonesia, langkah investor senior seperti Lo Kheng Hong sering dianggap sebagai sinyal penting untuk membaca peluang saham undervalued berikutnya.
Sumber: Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kontan, Investortrust, Indo Premier Sekuritas, serta data perdagangan Bursa Efek Indonesia.