- RALS membagikan dividen Rp306,73 miliar meski laba bersih 2025 turun menjadi sekitar Rp265 miliar, membuat dividend yield tembus sekitar 11%.
- Dividen jumbo tersebut tetap bisa dibayar karena RALS masih memiliki saldo laba ditahan dan posisi kas yang kuat dari akumulasi keuntungan tahun-tahun sebelumnya.
- Investor kini menunggu pemulihan penjualan dan laba RALS di 2026 untuk melihat apakah strategi dividen agresif ini masih bisa dipertahankan ke depan.
Saham ritel memang lagi tidak gampang bergerak di tengah tekanan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Tapi di saat banyak emiten memilih lebih hati-hati menjaga kas, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk atau RALS justru bikin pasar cukup terkejut. Bagaimana tidak, perusahaan memutuskan membagikan dividen tunai Rp306,73 miliar, sementara laba bersih tahun bukunya justru lebih kecil, sekitar Rp265 miliar.
Buat investor dividen, kabar ini jelas menarik. Dengan pembagian Rp50 per saham, yield dividen RALS bahkan sempat tembus kisaran 11% berdasarkan harga saham terakhir. Angka segitu tentu langsung bikin saham ini masuk radar pemburu passive income di Bursa Efek Indonesia.
Tapi kemudian muncul pertanyaan yang cukup ramai dibahas pelaku pasar: kok bisa perusahaan bagi dividen lebih besar dari laba?
Kalau dilihat lebih dalam, jawabannya sebenarnya ada di posisi keuangan RALS yang masih sangat tebal. Perusahaan masih punya saldo laba ditahan triliunan rupiah hasil akumulasi keuntungan tahun-tahun sebelumnya. Jadi walaupun laba tahun 2025 turun, manajemen masih punya ruang untuk tetap royal membagikan keuntungan ke pemegang saham.
Ini yang membuat RALS berbeda dibanding banyak emiten ritel lain. Mereka bukan cuma mengandalkan laba satu tahun berjalan, tapi juga punya cadangan kas dan ekuitas yang masih kuat. Karena itu, pembagian dividen jumbo kali ini dianggap pasar sebagai sinyal kalau kondisi cash flow perusahaan masih relatif aman.
Meski begitu, bukan berarti semuanya tanpa risiko. Beberapa analis mulai mengingatkan bahwa payout ratio di atas 100% tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus kalau pertumbuhan laba belum kembali stabil. Dalam jangka panjang, investor tetap ingin melihat bisnis inti perusahaan tumbuh, bukan sekadar mengandalkan saldo laba lama.
Tekanan terbesar RALS sendiri masih datang dari perubahan pola belanja masyarakat. Kompetisi dengan e-commerce makin ketat, sementara konsumen kelas menengah bawah juga masih cukup sensitif terhadap kondisi ekonomi. Ini yang membuat sektor ritel konvensional bergerak lebih lambat dibanding beberapa tahun lalu.
Walau begitu, ada sedikit sinyal positif dari kinerja awal 2026. Penjualan mulai menunjukkan perbaikan dan laba kuartalan juga terlihat lebih baik dibanding periode sebelumnya. Kalau momentum konsumsi domestik membaik di semester kedua tahun ini, peluang recovery RALS tentu masih terbuka.
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif karena sentimen suku bunga global dan arus dana asing, saham dengan dividen besar seperti RALS memang jadi alternatif menarik. Banyak investor lokal saat ini lebih memilih saham defensif yang rutin bagi dividen dibanding saham growth yang pergerakannya lebih agresif tapi penuh volatilitas.
Sekarang pasar tinggal menunggu apakah RALS bisa menjaga tradisi dividen jumbo sambil tetap memperbaiki performa bisnisnya. Karena pada akhirnya, dividen besar memang menyenangkan, tapi pertumbuhan laba tetap jadi fondasi utama yang paling diperhatikan investor jangka panjang.
Sumber:
Kontan, TradingView, Simply Wall St, Sectors App, laporan keuangan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk, dan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.