- Saham PTBA naik 0,35% di perdagangan Senin (18/5) setelah laba kuartal I-2026 melonjak 105% secara tahunan.
- Sejumlah analis menaikkan target harga PTBA hingga Rp3.500 per saham karena prospek laba dan dividen dinilai masih menarik.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya dari harga batu bara global, proyek hilirisasi DME, dan laporan keuangan kuartal II-2026.

Saham PT Bukit Asam Tbk atau PTBA kembali jadi perhatian pasar pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Di tengah pergerakan IHSG yang masih cenderung mixed, saham emiten batu bara pelat merah ini justru terlihat cukup kuat dan sempat bergerak naik ke area Rp2.840 per saham atau menguat sekitar 0,35% dibanding penutupan sebelumnya.
Meski kenaikannya belum terlalu besar, pergerakan PTBA menarik perhatian karena terjadi setelah perusahaan merilis kinerja kuartal I-2026 yang ternyata jauh lebih baik dari ekspektasi sebagian pelaku pasar. PTBA berhasil membukukan laba bersih Rp801,79 miliar, melonjak lebih dari 100% dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan laba ini banyak dikaitkan dengan efisiensi operasional dan kemampuan perusahaan menjaga biaya produksi tetap stabil di tengah fluktuasi harga batu bara global.
Kondisi ini membuat sejumlah analis mulai kembali optimistis terhadap saham PTBA. Beberapa sekuritas bahkan langsung menaikkan target harga sahamnya. MNC Sekuritas misalnya, merevisi target harga PTBA menjadi Rp3.500 per saham dengan rekomendasi beli. Maybank Research juga ikut menaikkan rating menjadi “buy”, sementara Citi dan BNI Sekuritas masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emiten ini.
Yang menarik, sentimen terhadap PTBA saat ini bukan cuma soal batu bara. Investor mulai melihat potensi jangka panjang perusahaan lewat proyek hilirisasi, terutama pengembangan DME sebagai substitusi LPG impor. Kalau proyek ini berjalan sesuai rencana, PTBA bisa punya sumber pendapatan baru di luar bisnis batu bara konvensional.
Di sisi lain, pasar juga masih cukup realistis. Harga batu bara global saat ini memang belum sepenuhnya stabil. Permintaan dari China yang melambat serta kondisi ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian tetap menjadi risiko utama bagi saham-saham sektor energi. Jadi meskipun ada optimisme, investor masih akan sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas beberapa bulan ke depan.
Secara teknikal, area Rp2.800 kini mulai dilihat sebagai support penting PTBA. Kalau saham ini mampu bertahan di atas level tersebut dan volume transaksi terus meningkat, bukan tidak mungkin saham PTBA kembali mencoba naik ke area psikologis Rp3.000 dalam waktu dekat.
Untuk sekarang, pelaku pasar tampaknya masih menunggu katalis berikutnya. Mulai dari laporan keuangan kuartal II, perkembangan proyek hilirisasi, hingga arah harga batu bara dunia bakal jadi penentu apakah reli PTBA bisa berlanjut atau justru kembali tertahan.
Sumber:
Laporan resmi PT Bukit Asam Tbk
Investing Indonesia
Investor.id
Marketscreener
Bloomberg Technoz