- Saham HAJJ turun sekitar 1,5% ke Rp129 di tengah sesi perdagangan akibat tekanan dari kinerja kuartal I-2026 yang melemah.
- Analis mulai menurunkan ekspektasi dan cenderung memberi rating “hold” sambil menunggu tanda pemulihan.
- Pasar menanti katalis utama dari musim haji 2026 dan laporan keuangan semester I untuk arah pergerakan selanjutnya.

Kalau kamu lagi ngikutin saham-saham sektor travel religi, pergerakan HAJJ hari ini cukup menarik buat dicermati. Di sesi perdagangan yang masih berjalan pada Selasa, 5 Mei 2026, saham PT Arsy Buana Travelindo Tbk kelihatan lagi agak “kehabisan tenaga”. Sampai sekitar siang hari, harganya turun tipis sekitar 1,5% ke level Rp129 per saham. Nggak anjlok dalam, tapi cukup nunjukin kalau pasar lagi hati-hati.
Sentimen utamanya datang dari laporan keuangan kuartal I-2026 yang baru dirilis. Dari data yang dipublikasikan lewat keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, pendapatan perusahaan ini ternyata turun dibanding tahun lalu. Buat emiten seperti HAJJ yang bisnisnya cukup bergantung sama musim dan momentum keberangkatan haji-umrah, penurunan di awal tahun ini langsung bikin investor mikir dua kali.
Kalau dilihat dari pergerakan intraday, sahamnya juga nggak terlalu “liar”, tapi lebih ke arah tertahan. Sempat dibuka stabil, lalu pelan-pelan turun dan bergerak di range sempit. Ini biasanya tanda kalau pasar lagi nunggu kepastian—belum yakin mau jual besar-besaran, tapi juga belum cukup percaya buat masuk agresif.
Yang menarik, sebelumnya ada beberapa analis yang cukup optimis sama HAJJ. Bahkan sempat ada target harga di kisaran Rp250 sampai Rp300, dengan asumsi bisnis haji dan umrah bakal terus tumbuh. Tapi setelah laporan terbaru ini keluar, nada analis mulai berubah. Sekarang lebih banyak yang ambil posisi netral alias “hold”, sambil nunggu bukti apakah kinerja bisa rebound di kuartal berikutnya.
Selain faktor internal, kondisi pasar juga lagi nggak terlalu mendukung. IHSG sendiri di sesi siang ini bergerak fluktuatif cenderung melemah tipis. Investor masih banyak yang wait and see, apalagi dengan ketidakpastian global seperti arah suku bunga dan aliran dana asing. Jadi wajar kalau saham-saham dengan likuiditas lebih kecil seperti HAJJ jadi lebih sensitif terhadap sentimen.
Di sisi lain, sebenarnya masih ada harapan. Bisnis HAJJ itu sangat tergantung musim haji, dan itu justru jadi katalis utama ke depan. Kalau jumlah jemaah meningkat atau operasional berjalan lebih efisien, kinerja bisa cepat membaik. Belum lagi kalau perusahaan berhasil dapat kontrak baru, misalnya di layanan katering atau akomodasi, itu bisa jadi booster tambahan.
Jadi sekarang ini posisinya cukup jelas: pasar lagi nunggu. Nunggu realisasi musim haji tahun ini, nunggu laporan semester I, dan nunggu apakah manajemen kasih guidance baru yang lebih meyakinkan. Buat trader, ini fase yang tricky—bisa jadi peluang kalau timing-nya pas, tapi juga berisiko kalau ternyata pemulihannya lebih lama dari ekspektasi.
Sumber:
Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (IDX)
Laporan keuangan PT Arsy Buana Travelindo Tbk kuartal I-2026
Laporan riset analis pasar (konsensus dan target harga)