Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Lonjakan Harga Nikel Bikin Laba INCO Melesat, Ini Ceritanya

Posted on April 7, 2026 By V. Theresia No Comments on Lonjakan Harga Nikel Bikin Laba INCO Melesat, Ini Ceritanya
  • Laba bersih INCO naik sekitar 31% didorong peningkatan volume produksi dan penjualan di tengah harga nikel yang fluktuatif
  • Permintaan global, terutama dari sektor kendaraan listrik, jadi faktor utama penopang pendapatan perusahaan
  • Prospek tetap positif dengan dukungan proyek ekspansi dan potensi kenaikan harga nikel ke depan
Kalau kamu lagi ngikutin saham-saham komoditas di Bursa Efek Indonesia, nama PT Vale Indonesia Tbk atau INCO pasti lagi sering muncul di radar. Bukan tanpa alasan, emiten nikel ini lagi menikmati dorongan kinerja yang cukup solid, terutama karena dinamika harga komoditas yang mulai kembali menarik setelah sempat tertekan.

Sepanjang 2025, INCO berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang cukup signifikan. Laba bersihnya naik sekitar 31% secara tahunan, tembus di kisaran US$76 juta. Angka ini cukup menarik karena datang di tengah kondisi harga nikel global yang sebenarnya tidak sepenuhnya stabil. Artinya, ada faktor lain yang bikin performa mereka tetap kinclong.

Salah satu kunci utamanya ada di volume produksi dan penjualan. INCO berhasil menjaga produksi nikel matte di level lebih dari 70 ribu metrik ton, bahkan sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, mereka juga mulai memaksimalkan penjualan bijih saprolit, yang jadi sumber tambahan pendapatan. Jadi walaupun harga rata-rata nikel sempat turun, volume yang naik berhasil menutup gap tersebut.

Dari sisi revenue, perusahaan mencatatkan pendapatan hampir menyentuh US$1 miliar. Ini menunjukkan bahwa permintaan global, terutama dari sektor kendaraan listrik dan stainless steel, masih cukup kuat. Tren elektrifikasi memang jadi “angin segar” buat industri nikel, karena logam ini merupakan bahan utama baterai EV yang lagi booming secara global.

Menariknya, beberapa analis melihat bahwa momentum harga komoditas mulai membaik di paruh kedua tahun lalu. Jadi efek positifnya baru mulai terasa ke margin perusahaan di akhir periode. Meski begitu, ada juga catatan bahwa laba INCO sedikit di bawah ekspektasi sebagian analis karena adanya peningkatan biaya operasional dan investasi proyek, termasuk proyek furnace yang sedang berjalan.

Kalau ngomongin soal rekomendasi, sentimen terhadap saham INCO masih cenderung positif. Ada broker global yang masih kasih rating outperform dengan target harga di kisaran Rp8.800. Alasannya cukup jelas: prospek harga nikel ke depan dinilai masih punya potensi naik, apalagi dengan supply yang makin dikontrol dan demand dari industri baterai yang terus tumbuh.

Di sisi lain, kondisi pasar saham secara keseluruhan memang lagi agak “naik turun”. IHSG sendiri bergerak fluktuatif karena pengaruh global seperti arah suku bunga dan kekhawatiran ekonomi dunia. Tapi justru di kondisi seperti ini, saham berbasis komoditas seperti INCO sering dilihat sebagai opsi defensif karena punya underlying demand yang kuat.

Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget buat dipantau kalau kamu tertarik sama saham ini. Salah satunya adalah progres proyek besar seperti rebuild furnace yang ditargetkan selesai dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, ekspansi tambang baru dan proyek hilirisasi seperti smelter HPAL juga bisa jadi game changer, karena akan memperkuat posisi INCO di rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Intinya, cerita INCO sekarang bukan cuma soal harga nikel, tapi juga soal bagaimana mereka mengelola produksi, ekspansi, dan efisiensi di tengah pasar yang dinamis. Kalau harga komoditas terus membaik dan proyek-proyek strategisnya berjalan lancar, bukan tidak mungkin performa mereka ke depan bisa lebih menarik lagi.

Sumber:
Laporan keuangan dan keterbukaan informasi PT Vale Indonesia Tbk (IDX)
Kontan.co.id
Katadata.co.id
KabarBursa.com
TradingView / riset analis
Neraca.co.id

Berita Emiten, IDX:INCO

Post navigation

Previous Post: WIKA Rugi Rp9,7 Triliun, Masih Berjuang Keluar dari Tekanan Utang
Next Post: Green Era Pangkas Saham BREN, Likuiditas Jadi Fokus Utama

Related Posts

Kinerja Operasional Masih Lesu, UNTR Pilih Strategi Defensif di Tengah Tekanan Sektor Tambang Berita Emiten
MEDC Makin Serius Garap Oman, Setelah 20 Tahun Kini Jadi Andalan Ekspansi Migas Berita Emiten
BFIN Tambah Dua Komisaris Baru, Pasar Mulai Tebak Arah Baru Perseroan Berita Emiten
Saham RMKE Makin Bersinar, Lonjakan Harga Batu Bara dan Aturan Baru Angkutan Jadi Pemicu Berita Emiten
Agresif di 5G dan B2B, Saatnya EXCL Bangkit atau Justru Tertekan? Berita Emiten
WIKA Rugi Rp9,7 Triliun, Masih Berjuang Keluar dari Tekanan Utang Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by