Sepanjang 2025, INCO berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang cukup signifikan. Laba bersihnya naik sekitar 31% secara tahunan, tembus di kisaran US$76 juta. Angka ini cukup menarik karena datang di tengah kondisi harga nikel global yang sebenarnya tidak sepenuhnya stabil. Artinya, ada faktor lain yang bikin performa mereka tetap kinclong.
Salah satu kunci utamanya ada di volume produksi dan penjualan. INCO berhasil menjaga produksi nikel matte di level lebih dari 70 ribu metrik ton, bahkan sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya. Di saat yang sama, mereka juga mulai memaksimalkan penjualan bijih saprolit, yang jadi sumber tambahan pendapatan. Jadi walaupun harga rata-rata nikel sempat turun, volume yang naik berhasil menutup gap tersebut.
Dari sisi revenue, perusahaan mencatatkan pendapatan hampir menyentuh US$1 miliar. Ini menunjukkan bahwa permintaan global, terutama dari sektor kendaraan listrik dan stainless steel, masih cukup kuat. Tren elektrifikasi memang jadi “angin segar” buat industri nikel, karena logam ini merupakan bahan utama baterai EV yang lagi booming secara global.
Menariknya, beberapa analis melihat bahwa momentum harga komoditas mulai membaik di paruh kedua tahun lalu. Jadi efek positifnya baru mulai terasa ke margin perusahaan di akhir periode. Meski begitu, ada juga catatan bahwa laba INCO sedikit di bawah ekspektasi sebagian analis karena adanya peningkatan biaya operasional dan investasi proyek, termasuk proyek furnace yang sedang berjalan.
Kalau ngomongin soal rekomendasi, sentimen terhadap saham INCO masih cenderung positif. Ada broker global yang masih kasih rating outperform dengan target harga di kisaran Rp8.800. Alasannya cukup jelas: prospek harga nikel ke depan dinilai masih punya potensi naik, apalagi dengan supply yang makin dikontrol dan demand dari industri baterai yang terus tumbuh.
Di sisi lain, kondisi pasar saham secara keseluruhan memang lagi agak “naik turun”. IHSG sendiri bergerak fluktuatif karena pengaruh global seperti arah suku bunga dan kekhawatiran ekonomi dunia. Tapi justru di kondisi seperti ini, saham berbasis komoditas seperti INCO sering dilihat sebagai opsi defensif karena punya underlying demand yang kuat.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak banget buat dipantau kalau kamu tertarik sama saham ini. Salah satunya adalah progres proyek besar seperti rebuild furnace yang ditargetkan selesai dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, ekspansi tambang baru dan proyek hilirisasi seperti smelter HPAL juga bisa jadi game changer, karena akan memperkuat posisi INCO di rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Intinya, cerita INCO sekarang bukan cuma soal harga nikel, tapi juga soal bagaimana mereka mengelola produksi, ekspansi, dan efisiensi di tengah pasar yang dinamis. Kalau harga komoditas terus membaik dan proyek-proyek strategisnya berjalan lancar, bukan tidak mungkin performa mereka ke depan bisa lebih menarik lagi.
Sumber:
Laporan keuangan dan keterbukaan informasi PT Vale Indonesia Tbk (IDX)
Kontan.co.id
Katadata.co.id
KabarBursa.com
TradingView / riset analis
Neraca.co.id