Kalau ditarik sedikit ke belakang, kondisi ini sebenarnya bukan hal yang datang tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, WIKA memang sudah berada dalam fase berat, terutama sejak pandemi yang bikin banyak proyek tersendat. Nah, di 2025 ini, situasinya makin terasa karena pendapatan ikut turun cukup dalam, dari sekitar Rp19 triliun jadi hanya Rp13 triliunan. Artinya, proyek yang jalan memang lebih sedikit, atau setidaknya realisasinya melambat.
Yang bikin kondisi makin berat, bukan cuma soal pendapatan yang turun. Beban perusahaan justru membengkak, terutama dari sisi non-operasional dan bunga utang. Ini cukup wajar sih, mengingat WIKA sebelumnya agresif dalam ekspansi proyek, yang akhirnya membuat struktur utangnya jadi berat. Jadi ketika pemasukan melemah, beban ini langsung terasa menekan.
Meski begitu, bukan berarti nggak ada sisi positif sama sekali. Kalau dilihat lebih dalam, operasional inti WIKA sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Margin kotor sempat membaik dan EBITDA operasional masih positif. Ini bisa diartikan bahwa bisnis intinya masih “hidup”, cuma memang tertahan oleh beban lama yang belum selesai dibereskan.
Di sinilah cerita restrukturisasi jadi penting banget. WIKA sekarang lagi fokus banget buat merapikan neraca keuangannya. Mulai dari negosiasi ulang utang, mempercepat penagihan piutang, sampai menjual aset yang nggak terlalu produktif. Sepanjang 2025, mereka bahkan sudah berhasil menurunkan sebagian utangnya, walaupun memang belum cukup untuk langsung bikin kondisi jadi sehat.
Kalau dari sudut pandang analis, banyak yang masih cukup hati-hati melihat saham ini. Beberapa sekuritas masih kasih rating yang cenderung konservatif, seperti “hold” atau bahkan “underperform”. Alasannya jelas, risiko masih tinggi dan pemulihan belum kelihatan solid. Apalagi sektor konstruksi BUMN secara umum juga lagi nggak dalam kondisi terbaik.
Di sisi lain, pergerakan pasar juga nggak banyak membantu. IHSG belakangan ini cukup fluktuatif, ditambah sentimen global yang bikin investor lebih selektif. Saham-saham konstruksi, termasuk WIKA, jadi agak kurang diminati karena dianggap masih penuh ketidakpastian.
Tapi buat investor yang suka spekulasi atau cari peluang turnaround, WIKA justru bisa jadi menarik. Kuncinya ada di beberapa hal ke depan. Misalnya, apakah restrukturisasi utangnya benar-benar berhasil, apakah proyek-proyek baru mulai masuk lagi, dan apakah ada dukungan tambahan dari pemerintah untuk sektor infrastruktur.
Selain itu, laporan keuangan kuartalan berikutnya juga bakal jadi sorotan. Kalau mulai ada tanda-tanda perbaikan yang konsisten, sentimen pasar bisa berubah cukup cepat. Ditambah lagi kalau WIKA berhasil jual aset atau menurunkan beban bunga secara signifikan, itu bisa jadi katalis besar.
Jadi sekarang posisi WIKA ini ibarat lagi di persimpangan jalan. Di satu sisi, tekanan masih besar dan risiko belum hilang. Tapi di sisi lain, ada peluang untuk bangkit kalau strategi penyehatan yang dijalankan benar-benar berhasil. Tinggal tunggu waktu, apakah ini jadi cerita recovery… atau justru berlanjut jadi tekanan yang lebih panjang.
Sumber:
Laporan keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 2025 (keterbukaan informasi BEI), riset Indo Premier Sekuritas, data pasar dari Investing.com, serta laporan dan ulasan analis yang dirangkum dari Investor.id dan Kumparan.