Sepanjang 2025, SMRA berhasil mencatatkan marketing sales sekitar Rp5,5 triliun, melampaui target awal. Ini sinyal penting, karena di bisnis properti, angka prapenjualan itu ibarat “amunisi” untuk pendapatan dan laba di masa depan. Jadi meskipun belum langsung masuk ke laporan laba rugi sekarang, efeknya baru benar-benar terasa beberapa tahun ke depan, terutama di 2026.
Kenapa bisa begitu? Karena pengakuan pendapatan di sektor properti itu tidak instan. Unit yang sudah terjual baru akan diakui sebagai pendapatan saat pembangunan selesai dan diserahterimakan ke pembeli. Artinya, apa yang dijual hari ini, seringkali baru “terlihat” di laporan keuangan 1–3 tahun ke depan. Nah, di sinilah letak menariknya SMRA—backlog penjualannya cukup tebal.
Kalau melihat dari kacamata analis, kondisi ini membuka peluang lonjakan laba di 2026. Beberapa sekuritas seperti Korea Investment & Sekuritas Indonesia bahkan cukup optimistis, dengan rekomendasi beli dan target harga yang mencerminkan potensi kenaikan. Meski begitu, tidak semua analis seagresif itu. Ada juga yang masih memilih stance lebih konservatif seperti “hold”, karena mempertimbangkan risiko daya beli dan kondisi makro.
Selain dari sisi penjualan, faktor lain yang bikin prospek SMRA menarik adalah potensi pemulihan recurring income. Pendapatan dari mal dan aset komersial mulai stabil lagi setelah sempat tertekan beberapa tahun lalu. Ini penting, karena recurring income bisa jadi penyeimbang saat penjualan properti lagi melambat.
Di luar faktor internal perusahaan, sentimen makro juga ikut main peran. Harapan akan penurunan suku bunga, baik global maupun domestik, jadi angin segar untuk sektor properti. Kalau bunga KPR turun, otomatis cicilan lebih ringan, dan itu biasanya langsung berdampak ke minat beli rumah. Tapi tentu saja, masih ada tantangan seperti daya beli kelas menengah yang belum sepenuhnya pulih dan potensi kenaikan biaya konstruksi.
Jadi kalau ditarik garis besarnya, cerita SMRA saat ini bukan soal “kinerja sekarang”, tapi lebih ke “potensi ke depan”. Dengan prapenjualan yang kuat dan backlog yang besar, 2026 bisa jadi titik di mana laba mulai benar-benar melesat. Tinggal bagaimana eksekusinya nanti, apakah sesuai ekspektasi atau tidak.
Untuk investor atau trader, beberapa hal yang layak dipantau ke depan adalah peluncuran proyek baru, perkembangan suku bunga KPR, serta kebijakan pemerintah seperti insentif PPN DTP. Semua faktor ini bisa jadi penentu apakah momentum SMRA benar-benar berlanjut atau justru melambat.
Sumber: Laporan analis sekuritas (Korea Investment, Panin Sekuritas, Mirae Asset), publikasi perusahaan, serta pemberitaan pasar modal terkait kinerja marketing sales dan prospek sektor properti Indonesia.