Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Prapenjualan Solid Dorong Prospek, Laba Summarecon Agung (SMRA) Berpotensi Melonjak di 2026

Posted on April 4, 2026April 3, 2026 By V. Theresia No Comments on Prapenjualan Solid Dorong Prospek, Laba Summarecon Agung (SMRA) Berpotensi Melonjak di 2026
  • Prapenjualan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tetap kuat di 2025, jadi “tabungan” pendapatan yang baru akan terealisasi penuh di 2026.
  • Analis melihat potensi lonjakan laba di 2026 didorong backlog besar dan pemulihan pendapatan berulang dari segmen komersial.
  • Sentimen suku bunga KPR dan kebijakan pemerintah jadi kunci apakah prospek positif SMRA bisa benar-benar terealisasi.
Kalau ngikutin sektor properti belakangan ini, nama PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) lagi cukup sering jadi bahan obrolan. Bukan tanpa alasan, prapenjualan alias marketing sales mereka masih terlihat solid, bahkan jadi salah satu yang paling konsisten di tengah kondisi pasar yang naik-turun.

Sepanjang 2025, SMRA berhasil mencatatkan marketing sales sekitar Rp5,5 triliun, melampaui target awal. Ini sinyal penting, karena di bisnis properti, angka prapenjualan itu ibarat “amunisi” untuk pendapatan dan laba di masa depan. Jadi meskipun belum langsung masuk ke laporan laba rugi sekarang, efeknya baru benar-benar terasa beberapa tahun ke depan, terutama di 2026.

Kenapa bisa begitu? Karena pengakuan pendapatan di sektor properti itu tidak instan. Unit yang sudah terjual baru akan diakui sebagai pendapatan saat pembangunan selesai dan diserahterimakan ke pembeli. Artinya, apa yang dijual hari ini, seringkali baru “terlihat” di laporan keuangan 1–3 tahun ke depan. Nah, di sinilah letak menariknya SMRA—backlog penjualannya cukup tebal.

Kalau melihat dari kacamata analis, kondisi ini membuka peluang lonjakan laba di 2026. Beberapa sekuritas seperti Korea Investment & Sekuritas Indonesia bahkan cukup optimistis, dengan rekomendasi beli dan target harga yang mencerminkan potensi kenaikan. Meski begitu, tidak semua analis seagresif itu. Ada juga yang masih memilih stance lebih konservatif seperti “hold”, karena mempertimbangkan risiko daya beli dan kondisi makro.

Selain dari sisi penjualan, faktor lain yang bikin prospek SMRA menarik adalah potensi pemulihan recurring income. Pendapatan dari mal dan aset komersial mulai stabil lagi setelah sempat tertekan beberapa tahun lalu. Ini penting, karena recurring income bisa jadi penyeimbang saat penjualan properti lagi melambat.

Di luar faktor internal perusahaan, sentimen makro juga ikut main peran. Harapan akan penurunan suku bunga, baik global maupun domestik, jadi angin segar untuk sektor properti. Kalau bunga KPR turun, otomatis cicilan lebih ringan, dan itu biasanya langsung berdampak ke minat beli rumah. Tapi tentu saja, masih ada tantangan seperti daya beli kelas menengah yang belum sepenuhnya pulih dan potensi kenaikan biaya konstruksi.

Jadi kalau ditarik garis besarnya, cerita SMRA saat ini bukan soal “kinerja sekarang”, tapi lebih ke “potensi ke depan”. Dengan prapenjualan yang kuat dan backlog yang besar, 2026 bisa jadi titik di mana laba mulai benar-benar melesat. Tinggal bagaimana eksekusinya nanti, apakah sesuai ekspektasi atau tidak.

Untuk investor atau trader, beberapa hal yang layak dipantau ke depan adalah peluncuran proyek baru, perkembangan suku bunga KPR, serta kebijakan pemerintah seperti insentif PPN DTP. Semua faktor ini bisa jadi penentu apakah momentum SMRA benar-benar berlanjut atau justru melambat.

Sumber: Laporan analis sekuritas (Korea Investment, Panin Sekuritas, Mirae Asset), publikasi perusahaan, serta pemberitaan pasar modal terkait kinerja marketing sales dan prospek sektor properti Indonesia.

Berita Emiten, IDX:SMRA

Post navigation

Previous Post: Penjualan Melonjak, Laba SSMS Melejit 41,6% di 2025 di Tengah Sentimen Positif Sawit
Next Post: Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% pada 2025, Tekanan Harga Energi dan Beban Non-Kas Jadi Biang Keladi

Related Posts

BWPT Terbitkan Obligasi Baru, Bagaimana Dampaknya ke Prospek Saham? Berita Emiten
Diserbu EV China, PT Astra International Tbk Mulai Kehilangan Tahta di Pasar Otomotif Berita Emiten
CLEO Tancap Gas Ekspansi, Kapasitas Produksi Digenjot Lewat Tiga Pabrik Baru Berita Emiten
Ditinggal Mitra Louis Vuitton, Saham SONA Jadi Roller Coaster Berita Emiten
Laba BUVA Melonjak 11,7 Kali Lipat, Efek Entitas Afiliasi Jadi Penyelamat Kinerja Berita Emiten
Bisnis Sempat Tertekan di 2025, Saham AYAM Berpotensi Rebound Saat Ramadan dan Lebaran Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by