- Saham MYOR naik sekitar 3,01% ke Rp1.885 pada 1 April 2026, seiring pasar mulai merespons positif laporan keuangan 2025.
- Meski penjualan tumbuh, laba bersih turun akibat kenaikan harga bahan baku seperti kopi dan kakao yang menekan margin.
- Analis masih rekomendasikan buy dengan potensi upside besar, sambil menunggu katalis dari laporan keuangan berikutnya dan pergerakan harga komoditas.

Kalau kamu lagi ngikutin saham sektor consumer goods di Bursa Efek Indonesia, pergerakan saham MYOR alias PT Mayora Indah Tbk belakangan ini cukup menarik buat diperhatikan. Di sesi perdagangan Rabu, 1 April 2026, saham ini akhirnya menunjukkan sedikit napas segar setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir.
Saham MYOR ditutup menguat sekitar 3,01% ke level Rp1.885. Kenaikan ini memang belum bisa dibilang besar, tapi cukup penting karena jadi sinyal bahwa pasar mulai “memaafkan” kinerja keuangan yang sebelumnya bikin khawatir. Sepanjang hari, harga bergerak di kisaran Rp1.850 sampai Rp1.890, menunjukkan adanya minat beli yang mulai kembali masuk.
Kalau kita mundur sedikit, laporan keuangan MYOR untuk tahun 2025 memang bisa dibilang campur aduk. Di satu sisi, penjualan masih tumbuh sekitar 7% menjadi Rp38,68 triliun. Artinya, produk-produk Mayora masih laku keras di pasar, baik domestik maupun ekspor. Tapi di sisi lain, laba bersih justru turun sekitar 4,5% ke Rp2,87 triliun. Penyebab utamanya nggak jauh-jauh dari kenaikan harga bahan baku seperti kopi dan kakao, yang bikin margin perusahaan jadi tertekan.
Nah, yang menarik, pasar tampaknya sudah mengantisipasi kondisi ini. Jadi ketika laporan keluar, reaksinya nggak terlalu negatif. Bahkan, di sesi terbaru ini, investor mulai melihat peluang ke depan daripada fokus ke masa lalu. Ini yang sering disebut sebagai “priced in”—ketika kabar buruk sudah tercermin di harga saham sebelumnya.
Sentimen positif juga datang dari kondisi pasar yang lebih luas. Di hari yang sama, IHSG ikut menguat sekitar 1,57%. Jadi bukan cuma MYOR yang naik, tapi memang ada dorongan dari market secara keseluruhan. Biasanya kalau pasar lagi risk-on seperti ini, saham-saham consumer juga ikut kebagian aliran dana.
Meski begitu, perjalanan MYOR belum sepenuhnya mulus. Dalam beberapa minggu terakhir, saham ini sempat tertekan cukup dalam, bahkan turun ke kisaran Rp1.840. Salah satu penyebabnya adalah aksi jual dari investor asing yang masih cukup konsisten keluar dari saham ini. Jadi, kenaikan sekarang bisa juga dilihat sebagai fase rebound jangka pendek.
Dari sisi analis, pandangan terhadap MYOR masih cukup positif. Banyak yang masih kasih rekomendasi “buy” dengan target harga di kisaran Rp2.700-an. Kalau dibandingkan dengan harga sekarang, itu berarti masih ada potensi kenaikan lebih dari 40%. Optimisme ini datang dari harapan bahwa tekanan biaya bahan baku akan mulai mereda, dan margin perusahaan bisa kembali membaik.
Selain itu, Mayora juga punya kekuatan di jaringan distribusi dan ekspor yang luas. Ini jadi salah satu alasan kenapa banyak analis masih percaya dengan prospek jangka menengah hingga panjangnya. Apalagi kalau daya beli masyarakat mulai pulih, produk-produk consumer seperti MYOR biasanya jadi yang pertama ikut naik.
Ke depan, ada beberapa hal yang wajib banget dipantau oleh investor. Yang paling dekat adalah rilis laporan keuangan berikutnya pada 24 April 2026. Ini bakal jadi momen penting untuk melihat apakah tekanan margin masih berlanjut atau mulai membaik. Selain itu, pergerakan harga komoditas seperti kopi dan kakao juga bakal sangat menentukan arah laba perusahaan.
Jadi, meskipun saat ini MYOR mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, ceritanya belum selesai. Saham ini masih berada di fase transisi—antara recovery atau lanjut konsolidasi. Buat trader maupun investor, ini bisa jadi momen menarik, tapi tetap perlu hati-hati dan memperhatikan perkembangan terbaru.
Sumber: Laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk 2025, data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Investing.com, TradingView, Kontan, Investortrust, Kabar Bursa.