- PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) menargetkan okupansi hotel 85% saat Lebaran, didorong lonjakan mobilitas dan permintaan akomodasi.
- Bisnis hotel jadi penopang recurring income, dengan rencana ekspansi jumlah hotel untuk memperkuat pendapatan stabil.
- Analis masih positif terhadap MTLA, dengan kinerja ke depan bergantung pada okupansi hotel, traffic mal, dan kondisi makro.
Kalau kamu lagi ngikutin saham properti, khususnya yang punya recurring income kuat, kabar terbaru dari PT Metropolitan Land Tbk alias MTLA ini cukup menarik buat dicermati.
Jadi gini, Metland lagi cukup pede dengan bisnis hotelnya. Mereka menargetkan tingkat okupansi hotel bisa tembus 85% terutama di momen Lebaran. Bukan target yang asal bunyi—karena kalau lihat tren beberapa waktu terakhir, mobilitas masyarakat memang lagi tinggi-tingginya, apalagi saat musim liburan panjang. Hotel-hotel di kota besar sampai destinasi wisata biasanya langsung kebanjiran tamu.
Nah, yang bikin menarik, bisnis hotel ini bukan sekadar “tambahan” buat MTLA. Justru sekarang jadi salah satu tulang punggung recurring income mereka. Di tengah kondisi pasar properti yang kadang naik turun (tergantung suku bunga, daya beli, dll), pendapatan dari hotel dan mal jadi semacam penyangga yang bikin kinerja lebih stabil.
MTLA sendiri juga nggak berhenti di situ. Mereka lagi dalam fase ekspansi. Saat ini sudah punya sekitar enam hotel, dan ke depan ditargetkan bertambah jadi delapan. Ada proyek baru yang sedang disiapkan, termasuk di Bekasi dan Tomohon. Artinya, mereka serius menggarap segmen hospitality ini dalam jangka panjang.
Kalau kita tarik ke gambaran yang lebih besar, strategi ini sebenarnya cukup masuk akal. Dibanding hanya mengandalkan penjualan rumah atau apartemen (yang sifatnya one-off), bisnis seperti hotel dan pusat perbelanjaan bisa kasih cash flow rutin. Investor biasanya suka model begini karena lebih predictable.
Dari sisi analis, sentimen terhadap MTLA juga masih cukup positif. Beberapa rumah riset masih mempertahankan rekomendasi “buy”, dengan catatan bahwa kinerja ke depan sangat bergantung pada keberhasilan mereka menjaga tingkat okupansi hotel dan traffic di mal. Jadi, angka 85% tadi bukan sekadar target, tapi juga semacam “benchmark” penting yang bakal dilihat pasar.
Di sisi lain, kondisi makro juga tetap jadi faktor penentu. Sektor properti di BEI belakangan ini memang agak fluktuatif, dipengaruhi oleh suku bunga dan daya beli masyarakat. Tapi emiten seperti MTLA yang punya porsi recurring income lebih besar biasanya cenderung lebih tahan banting dibanding pure developer.
Yang menarik untuk dipantau ke depan adalah apakah momentum Lebaran ini benar-benar bisa dikonversi jadi kinerja keuangan yang solid. Selain itu, progres pembangunan hotel baru juga bakal jadi perhatian investor. Kalau ekspansi berjalan lancar dan okupansi tetap tinggi, bukan nggak mungkin kontribusi segmen hotel akan makin besar dalam beberapa tahun ke depan.
Jadi, buat kamu yang lagi ngelirik saham properti, MTLA ini bisa dibilang salah satu yang “main aman tapi tetap punya growth story”. Tinggal kita lihat saja, apakah target okupansi 85% ini bisa benar-benar tercapai dan berlanjut setelah musim liburan selesai.
Sumber:
Kontan (industri.kontan.co.id), InvestasiProperti.id, laporan publik & pernyataan manajemen PT Metropolitan Land Tbk, serta riset analis pasar modal.