- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatat pendapatan sekitar Rp18,3 triliun pada 2025, naik lebih dari 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Rugi bersih perusahaan berhasil dipangkas sekitar 77% menjadi sekitar Rp1,18 triliun berkat efisiensi biaya dan perbaikan kinerja operasional.
- Analis melihat potensi profitabilitas pada 2026, dengan bisnis fintech dan ekosistem digital GOTO sebagai pendorong pertumbuhan utama.
Kinerja keuangan terbaru dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mulai memberi sinyal positif bagi investor. Perusahaan teknologi yang sahamnya diperdagangkan dengan kode GOTO di Bursa Efek Indonesia ini berhasil memangkas rugi bersih hingga 77% seiring dengan meningkatnya pendapatan dan upaya efisiensi di berbagai lini bisnis.
Dalam laporan keuangan terbarunya, GoTo mencatat pendapatan sekitar Rp18,3 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik lebih dari 15% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp15,8 triliun. Pertumbuhan pendapatan ini menjadi salah satu faktor utama yang membantu perusahaan menekan kerugian secara signifikan. Jika sebelumnya rugi bersih GoTo masih mencapai sekitar Rp5,1 triliun, kini angkanya turun drastis menjadi sekitar Rp1,18 triliun.
Perbaikan kinerja ini sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Selama dua tahun terakhir, manajemen GoTo memang fokus melakukan transformasi bisnis. Strateginya mencakup pengendalian biaya operasional, peningkatan monetisasi layanan, serta optimalisasi ekosistem digital yang menggabungkan transportasi online, e-commerce, dan layanan keuangan. Hasilnya mulai terlihat dari sisi operasional. Gross Transaction Value (GTV) inti tercatat tumbuh cukup kuat, sementara EBITDA yang disesuaikan bahkan sudah menembus sekitar Rp2 triliun—melewati target yang sebelumnya dipasang perusahaan.
Pasar pun mulai merespons perkembangan ini. Setelah laporan kinerja dirilis, saham GOTO sempat bergerak naik dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Meskipun volatilitas masih terjadi, sebagian investor mulai melihat peluang bahwa perusahaan teknologi ini semakin dekat dengan titik profitabilitas yang selama ini dinantikan pasar.
Sejumlah analis juga mulai menunjukkan pandangan yang lebih konstruktif terhadap prospek GoTo. Beberapa rumah riset global menilai bahwa segmen layanan keuangan digital atau fintech berpotensi menjadi mesin pertumbuhan terbesar perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Penetrasi layanan keuangan digital di Indonesia yang masih relatif rendah membuka peluang besar bagi GoTo untuk memperluas pembiayaan, pembayaran digital, hingga layanan finansial lainnya melalui ekosistem aplikasinya.
Tidak sedikit analis yang bahkan memproyeksikan bahwa GoTo berpeluang mencetak laba bersih pertamanya pada 2026 jika tren perbaikan ini berlanjut. Target tersebut tentu bergantung pada beberapa faktor, mulai dari pertumbuhan pengguna aktif, peningkatan transaksi di layanan transportasi dan e-commerce, hingga keberhasilan monetisasi di segmen fintech.
Kondisi pasar yang lebih luas juga ikut memengaruhi pergerakan saham teknologi seperti GoTo. Dalam beberapa waktu terakhir, investor global memang masih cukup berhati-hati terhadap sektor teknologi setelah periode koreksi valuasi yang cukup tajam. Namun, ketika perusahaan mulai menunjukkan jalur yang jelas menuju profitabilitas, minat investor biasanya kembali meningkat.
Ke depan, pelaku pasar kemungkinan akan mencermati beberapa katalis penting. Selain target peningkatan EBITDA dalam beberapa tahun mendatang, investor juga menunggu perkembangan bisnis fintech GoTo, potensi peningkatan monetisasi dari ekosistem digitalnya, serta pertumbuhan transaksi di layanan on-demand seperti transportasi dan pengantaran makanan.
Jika strategi efisiensi dan ekspansi bisnis ini terus berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin GoTo akan benar-benar mencapai tonggak penting berikutnya: berubah dari perusahaan teknologi yang identik dengan kerugian besar menjadi perusahaan digital yang mulai mencetak keuntungan.
Sumber: Laporan keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, publikasi perusahaan, laporan analis Macquarie dan CGS International, serta pemberitaan bisnis dari Jakarta Globe, Bloomberg Technoz, dan Investor Daily.