- INTP membagikan dividen Rp1,53 triliun atau Rp468 per saham dengan dividend yield sekitar 9,7%.
- Dividen jumbo ini menarik perhatian investor di tengah kondisi sektor semen yang masih penuh tantangan.
- Pasar kini menunggu katalis berikutnya seperti proyek infrastruktur, permintaan semen nasional, dan pergerakan biaya energi.
Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lagi jadi perhatian pelaku pasar setelah perusahaan memutuskan membagikan dividen tunai total Rp1,53 triliun. Nilainya setara Rp468 per saham, dan kalau dihitung berdasarkan harga saham sebelum cum dividen, yield-nya mencapai sekitar 9,7%. Angka ini jelas menarik, apalagi di tengah kondisi pasar yang masih cukup fluktuatif.
Buat investor yang suka saham dividen, keputusan INTP ini bisa dibilang cukup menggoda. Soalnya, yield hampir 10% itu sudah jauh di atas rata-rata bunga deposito saat ini. Tidak heran kalau banyak investor mulai melirik kembali saham semen ini sebagai pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar.
Dividen jumbo tersebut berasal dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai sekitar Rp2,24 triliun. Artinya, perusahaan membagikan sekitar 68% laba mereka kepada pemegang saham. Ini juga menunjukkan kalau kondisi kas perusahaan masih cukup sehat walaupun industri semen nasional sebenarnya belum benar-benar pulih.
Selama beberapa tahun terakhir, sektor semen memang menghadapi tekanan cukup berat. Persaingan makin ketat, kapasitas produksi berlebih masih jadi masalah, sementara permintaan belum tumbuh terlalu agresif. Ditambah lagi, kenaikan suku bunga membuat sektor properti dan konstruksi bergerak lebih lambat. Tapi di tengah situasi itu, INTP masih bisa menjaga profitabilitas lewat efisiensi biaya dan pengelolaan operasional yang lebih rapi.
Pasar juga menyoroti langkah manajemen yang melakukan beberapa perubahan direksi dalam RUPST terbaru. Pergantian jajaran direksi ini dianggap sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat bisnis dan menjaga efisiensi perusahaan ke depan. Selain itu, perusahaan juga melanjutkan aksi terkait saham treasury hasil buyback sebelumnya, yang dinilai positif oleh investor karena bisa meningkatkan value pemegang saham.
Walaupun saham-saham berbasis komoditas dan perbankan masih mendominasi pergerakan IHSG, saham defensif dengan dividen tinggi seperti INTP mulai kembali menarik perhatian. Apalagi kondisi global masih penuh ketidakpastian, mulai dari arah suku bunga The Fed sampai pergerakan rupiah yang masih sensitif terhadap arus dana asing.
Ke depan, investor kemungkinan bakal fokus memantau beberapa hal penting. Salah satunya tentu realisasi pembayaran dividen yang dijadwalkan bulan Juni nanti. Selain itu, perkembangan proyek infrastruktur pemerintah juga bakal jadi faktor penting untuk mendukung permintaan semen nasional. Kalau proyek-proyek besar mulai berjalan lebih agresif, sektor semen bisa mendapat angin segar.
Di sisi lain, investor juga akan memperhatikan harga energi seperti batu bara yang sangat memengaruhi biaya produksi semen. Kalau biaya energi tetap terkendali dan permintaan mulai membaik, bukan tidak mungkin kinerja INTP bisa kembali tumbuh lebih solid dalam beberapa kuartal mendatang.
Untuk sementara, cerita terbesar dari INTP memang masih soal dividen jumbo mereka. Di tengah pasar yang naik turun, saham dengan cash return tinggi seperti ini memang sering jadi tempat berlindung investor.
Sumber:
Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI)
Laporan RUPST PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Kontan
IDN Financials