- Saham INCO menarik minat investor institusi setelah laba kuartal I-2026 melonjak dan didukung efisiensi operasional.
- Prospek nikel global yang kuat, terutama dari permintaan kendaraan listrik, jadi katalis utama sentimen positif.
- Analis masih cenderung bullish meski ada yang mulai hati-hati karena valuasi dan risiko proyek hilirisasi.
Kalau kamu perhatiin pergerakan saham tambang belakangan ini, nama INCO alias PT Vale Indonesia Tbk lagi cukup sering muncul di radar investor, terutama yang institusi besar. Bukan tanpa alasan—ceritanya lagi “daging” banget, apalagi dikaitkan sama tren nikel yang makin seksi di era kendaraan listrik.
Di kuartal pertama 2026, performa INCO bisa dibilang bikin pasar melirik ulang. Laba bersihnya tembus sekitar US$43,6 juta, naik signifikan dibanding tahun lalu. Pendapatan juga ikut terkerek, didorong harga nikel yang masih relatif kuat dan efisiensi operasional yang mulai terasa hasilnya. Ini jadi sinyal penting bahwa bisnis mereka masih solid, bahkan di tengah tantangan produksi yang sempat terganggu maintenance.
Nah, yang bikin makin menarik, prospek nikel ke depan lagi terang-terangnya. Secara global, banyak analis melihat potensi defisit pasokan nikel dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan dari industri baterai—khususnya kendaraan listrik—terus naik, sementara suplai nggak selalu bisa ngejar. Buat perusahaan kayak INCO, kondisi ini jelas jadi tailwind besar.
Dari dalam negeri juga ada angin segar. Pemerintah melakukan revisi terhadap Harga Patokan Mineral (HPM), yang bikin pricing nikel jadi lebih mencerminkan kondisi pasar. Dampaknya? Margin perusahaan tambang seperti INCO berpotensi naik. Jadi bukan cuma soal volume, tapi juga kualitas pendapatan yang membaik.
Nggak heran kalau sejumlah analis mulai adjust pandangan mereka. Ada yang tetap bullish dengan rekomendasi “buy” dan target harga di kisaran Rp7.600 sampai Rp8.000, mengandalkan potensi kenaikan laba dan proyek hilirisasi seperti HPAL. Tapi di sisi lain, ada juga yang mulai lebih hati-hati. Beberapa analis menilai valuasi INCO sekarang sudah cukup tinggi, sehingga rekomendasinya turun ke “hold”. Artinya, upside masih ada, tapi nggak sebesar sebelumnya.
Kalau ditarik ke konteks lebih luas, pergerakan INCO ini juga nggak berdiri sendiri. Sektor logam dan pertambangan memang lagi outperform di pasar saham Indonesia. IHSG sendiri ikut terbantu oleh reli komoditas global, dan investor tampaknya lagi rotasi ke saham-saham berbasis resource. INCO jadi salah satu pilihan utama buat yang mau “numpang” tren nikel.
Meski begitu, bukan berarti tanpa risiko. INCO masih punya PR besar dari sisi belanja modal untuk proyek hilirisasi. Proyek-proyek seperti HPAL butuh dana besar dan waktu panjang sebelum benar-benar menghasilkan. Belum lagi potensi perubahan regulasi atau tekanan biaya energi yang bisa ganggu profitabilitas.
Jadi ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian pasar. Mulai dari update proyek hilirisasi, kinerja keuangan berikutnya, sampai arah harga nikel global. Kalau semua berjalan sesuai ekspektasi, bukan nggak mungkin minat investor institusi ke INCO bakal terus berlanjut. Tapi kalau ada miss di salah satu faktor itu, pasar juga bisa cepat berubah arah.
Sumber:
Bareksa, Kontan, Indo Premier Sekuritas, Investortrust, SWA (ringkasan laporan analis, keterbukaan informasi, dan berita pasar terbaru terkait INCO dan sektor nikel).