- MAPA agresif ekspansi gerai LEGO sebagai strategi dorong pertumbuhan baru, didukung tren konsumsi produk edukatif.
- Analis masih rekomendasikan “buy” dengan target harga menarik, meski pasar saham sedang fluktuatif.
- Investor menunggu realisasi ekspansi dan kinerja penjualan ke depan sebagai katalis utama.
Kalau kamu lagi ngikutin saham ritel di Bursa Efek Indonesia, nama PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) belakangan ini cukup menarik perhatian. Perusahaan yang dikenal sebagai distributor brand olahraga global ini ternyata lagi serius menggarap lini bisnis yang mungkin sebelumnya kurang dilirik banyak investor: mainan, khususnya LEGO.
MAPA sekarang lagi gencar banget ekspansi gerai LEGO di Indonesia. Salah satu langkah paling mencolok adalah pembukaan LEGO Certified Store di Grand Indonesia yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Bukan cuma soal ukuran, tapi juga pengalaman yang ditawarkan. Di sana ada ratusan produk dan fitur interaktif seperti “figure factory” yang bikin konsumen bisa bikin karakter LEGO versi mereka sendiri. Ini jelas bukan sekadar toko biasa, tapi sudah masuk ke konsep experiential retail—di mana belanja jadi pengalaman, bukan cuma transaksi.
Menariknya, langkah ini bukan sekadar coba-coba. Dari sisi manajemen, LEGO memang diposisikan sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru. Apalagi, tren konsumsi produk edukatif dan permainan kreatif lagi naik, seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat. Di kuartal pertama tahun ini saja, penjualan LEGO disebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Artinya, demand-nya memang ada, bukan sekadar optimisme internal perusahaan.
Dari sudut pandang investor, cerita ini tentu jadi katalis menarik. Banyak analis masih kasih rating “buy” untuk MAPA, dengan target harga yang cukup optimistis. Konsensus pasar menempatkan target di kisaran Rp950–Rp1.050 per saham. Bahkan meskipun ada penyesuaian target dari beberapa sekuritas seperti Nomura, mereka tetap mempertahankan rekomendasi beli. Ini biasanya jadi sinyal bahwa fundamental perusahaan masih dianggap solid, walaupun ada penyesuaian ekspektasi jangka pendek.
Tapi bukan berarti semuanya mulus. Kalau lihat dari sisi teknikal, saham MAPA sempat berada dalam tekanan dan masuk kategori “sell” dalam beberapa indikator trading. Ini wajar sih, karena kondisi pasar secara keseluruhan juga lagi nggak stabil. Indeks saham Indonesia sempat tertekan akibat sentimen global seperti ketidakpastian ekonomi dan pergerakan nilai tukar. Jadi, pergerakan saham MAPA nggak bisa dilepaskan dari kondisi makro yang lebih luas.
Yang menarik, strategi MAPA ini sebenarnya mencerminkan perubahan besar di industri ritel. Sekarang, toko fisik nggak bisa lagi cuma mengandalkan penjualan produk. Harus ada pengalaman, interaksi, dan sesuatu yang bikin orang mau datang. LEGO, dengan konsep kreatif dan interaktifnya, cocok banget untuk strategi ini.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak dipantau. Salah satunya tentu realisasi ekspansi gerai baru, terutama di luar Pulau Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan. Ini penting karena akan menunjukkan apakah strategi mereka bisa berhasil di pasar yang lebih luas. Selain itu, laporan keuangan berikutnya juga bakal jadi kunci, terutama untuk melihat apakah pertumbuhan penjualan LEGO bisa benar-benar berdampak signifikan ke kinerja keseluruhan.
Jadi, buat kamu yang lagi ngintip saham MAPA, ceritanya sekarang bukan cuma soal sepatu atau apparel olahraga lagi. Mereka sedang membangun narasi baru lewat bisnis mainan, dan sejauh ini, arahnya terlihat cukup menjanjikan—meskipun tetap harus waspada dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif.
Sumber: Laporan media Kontan, data konsensus analis (MarketScreener), riset sekuritas (Nomura, Mandiri Sekuritas), serta data pasar dari Investing.com.