
Kalau kamu mengikuti pergerakan saham energi terbarukan di Bursa Efek Indonesia (BEI), nama ARKO atau PT Arkora Hydro Tbk belakangan ini lagi cukup ramai dibicarakan. Menjelang sesi perdagangan Kamis, 26 Februari 2026 di Jakarta, saham ini jadi salah satu yang masuk radar trader setelah lonjakan harga yang cukup agresif dalam beberapa sesi terakhir.
Di penutupan perdagangan sebelumnya, ARKO parkir di level Rp 9.000 per saham. Yang bikin menarik, indikasi premarket menunjukkan potensi kenaikan ke kisaran Rp 10.400 atau sekitar +15,56%. Angka ini jelas bukan pergerakan biasa, apalagi untuk saham sektor energi terbarukan yang biasanya cenderung bergerak lebih gradual. Data harga dan pergerakan ini bisa kamu lihat di platform seperti Investing dan data perdagangan BEI.
Sentimen positif ini nggak muncul begitu saja. Dalam beberapa waktu terakhir, ada sejumlah kabar yang memengaruhi persepsi pasar terhadap ARKO. Salah satunya adalah keterbukaan informasi terkait aksi jual sebagian saham oleh pengendali, PT Arkora Bakti Indonesia. Berdasarkan laporan yang dirilis melalui keterbukaan informasi BEI dan dilaporkan media seperti Kontan, pengendali melepas sekitar 165 juta saham sehingga kepemilikannya turun dari sekitar 47,5% menjadi 41,88%.
Biasanya, aksi jual oleh pengendali bisa bikin pasar was-was. Tapi dalam kasus ARKO, pasar tampaknya membaca ini sebagai aksi profit taking, bukan sinyal ada masalah fundamental. Respons harga justru menunjukkan minat beli yang tetap solid.
Dari sisi fundamental, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan proyek pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) Tomoni yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. Berdasarkan pemberitaan IDX Channel dan pernyataan manajemen, proyek ini diproyeksikan bisa menyumbang tambahan pendapatan signifikan bagi perusahaan. Di tengah dorongan transisi energi dan komitmen pemerintah terhadap bauran energi baru terbarukan, cerita ekspansi seperti ini jelas jadi nilai tambah.
Kalau melihat gambaran yang lebih luas, pergerakan ARKO juga terjadi saat IHSG bergerak variatif dengan kecenderungan menguat tipis, mengikuti sentimen global dan stabilisasi rupiah. Sektor energi dan utilitas memang sedang mendapat perhatian, apalagi ketika investor mulai berburu saham dengan potensi pertumbuhan jangka menengah.
Untuk analis, meski belum banyak pembaruan target harga besar dari sekuritas domestik dalam beberapa hari terakhir, sentimen terhadap saham energi terbarukan secara umum masih cukup konstruktif. Beberapa laporan riset sebelumnya menempatkan ARKO dalam kategori netral hingga positif, dengan fokus pada eksekusi proyek dan konsistensi pendapatan berbasis kontrak jangka panjang.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak dicermati investor. Pertama tentu realisasi operasional proyek PLTM baru dan dampaknya terhadap kinerja 2026. Kedua, laporan keuangan interim berikutnya yang akan memberi gambaran lebih jelas soal margin dan arus kas. Ketiga, dinamika kepemilikan saham pasca divestasi sebagian oleh pengendali, apakah akan ada aksi lanjutan atau tidak.
Dengan volatilitas yang mulai meningkat, ARKO kini bukan cuma saham cerita energi hijau, tapi juga sudah masuk kategori saham momentum. Buat trader jangka pendek, level teknikal support dan resistance bakal jadi kunci. Sementara untuk investor jangka menengah, konsistensi eksekusi proyek dan pertumbuhan kapasitas pembangkit tetap jadi faktor utama.
Sumber: Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), data harga dari Investing.com, pemberitaan Kontan terkait aksi jual saham pengendali, serta laporan IDX Channel mengenai proyek PLTM Tomoni.